cekit-cekit menjauhi Ibukota

Fajar masih malu-malu, mobil kami melaju perlahan menjauhi dari Ibukota.

Rencana awal kami adalah tujuan Tegal, semenjak ada Tol Pantura kabarnya banyak perjalanan yang bisa menghemat waktu. Toh, apa hebatnya masuk Ibukota, masuk bioskop mentereng dengan harga mahal -tentu fasilitas yang oke, makan di kedai yang keren namun ditilang karena peraturan ganjil/genap?

Sejak pulang menerjang Lintas Sumatera, mobil belum sempat masuk bengkel kembali. Ada sistem kelistrikan yang menyebabkan radio mobil tidak berfungsi. Bolong jalanan Lintas Sumatera yang lebih sering kami hantam menyebabkan bunyi ‘cekit-cekit’ pada bagian belakang mobil setiap badan mobil dipaksa bergoyang.

Maka, selain suara obrolan kami berdua suasana kesunyian hanya dihancurkan oleh bunyi ‘cekit-cekit’ pada bagian belakang mobil. Adakah itu menggangu kamu dan obrolan kita?

Jika saya ingat kembali, maka kami hanya berputar-putar pada titik yang sama. Pada koordinat yang tidak bergeser. Cita-cita kita yang luas sepertinya. Bahwa, upacara wisuda yang membuat satu jalur macet total menyebabkan kami harus berputar arah.

Jika saya ingat kembali, seharusnya banyak kekecewaan. Walaupun bisa saya tegaskan tidak ada salah satu dari kami kecewa, setidaknya per-tulisan ini saya posting. Pantai yang biasa aja bahkan membuat kamu tidak nyaman. Makan yang begitu doang. Bukit yang gitu aja. Badan yang capek yang baru terasa setelah pulang karena perjalanan yang panjang dan keseruan itu sendiri akan berbagi energi baik.

Rasanya, kecewa ataupun bahagia adalah pilihan. Kita tahu, bahwa perjalanan ini akan ada muncul kecewa dan kebahagiaan. Kita saling berusaha menjaga ekspektasi. Kompromi dan komitmen.

Ternyata sejauh ini, jika ditarik menjauh kebelakang kepada masing-masing : hidup kita sendiri campuran kecewa dan bahagia itu.

Jika mobil melaju kemudian menabrak lapiran jalan yang tidak rata, kemudian bunyi ‘kecit-cekit’ yang menggangu mood kamu. Kita bisa tertawa bersama untuk cerita yang seharusnya ditangisi bersama.

Pantai yang biasa aja bahkan membuat kamu tidak nyaman. Makan yang begitu doang. Bukit yang gitu aja. Badan yang capek yang baru terasa setelah pulang karena perjalanan yang panjang dan keseruan itu sendiri akan berbagi energi baik. Ataupun Kita bisa tertawa bersama untuk cerita yang seharusnya ditangisi bersama.

Kamu harus ingat ini : … bukan telat, bukan terlambat, namun sepertinya memang saat yang tepat. Kita (tentu) ingin meraih kebahagian bersama, namun kadang ada kekecewaan yang (tiba-tiba nongol) yang harus bisa kita hadapi bersama juga. Maju lo semua.

Malam hari mobil kami mendekat Ibukota. Semua aplikasi memberikan warna merah menyala. Ya sudah, apapun itu walupun brengkes!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.