Penyu

Kenapa Penyu?

Penyu bagi saya unik, setidaknya di Indonesia. Ada 7 jenis penyu di dunia dan 6 jenis diantaranya berhabitat di Indonesia. Penyu adalah hewan jenis reptil yang termasuk poikilotherm (suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan) dan golongan ectotermic vertebretes (berdarah dingin).

Ciri-ciri khas penyu yaitu bernapas dengan paru-paru, berkulit sisik dan mempunyai tempurung atau bahasa kerennya karapas yang sangat keras. Penyu tidak menjaga telurnya hingga menetas (no parental care).

Telur penyu yang menetas menjadi tukik, kemudian menuju lautan bebas hingga keberadaannya sulit terditeksi atau fase ini dikenal dengan The Missing Year.

Penyu berkembang biak dengan bertelur dan termasuk hewan yang mempunyai pertumbuhan yang sangat lamban sehingga memerlukan puluhan tahun untuk mencapai usia reproduksi.

Setelah fase The Missing Year, kira-kira pada usia sekitar (20-50 tahun) penyu jantan dan betina bermigrasi ke daerah peneluran disekitar daerah kelahiran mereka. Jarak migrasi untuk kawin ini penyu bisa menempuh hingga 3.000 Km. Penyu yang bertelur di sekitar daerah peneluran adalah tukik-tukik yang menetas 20-50 tahun yang lalu.

Perkawinan penyu terjadi di lepas pantai, di perairan dangkal. Si Penyu Jantan ataupun Si Penyu Betina memiliki beberapa pasangan kawin.

Generalized-life-cycle-of-sea-turtles-Source-Lanyon-J-M-C-J-Limpus-H-Marsh

 

No Parental Care

Ada fase dalam siklus penyu yang dikenal dengan istilah no parental care.

Tau ayam kalo bertelur?

Telur-telur ayam itu akan dierami oleh sang induk, dijaga temperaturnya sampai telur-telur menetas menjadi ayam kecil.

nah, kalo penyu tidak. Induk penyu akan bertelur dan mencari sarang bertelur yang cocok. Mencari pasir pantai, kemudian mengali pasir tersebut dan mengeluarkan telur-telurnya. Selesai bertelur, telur telur itu ditutup kembali oleh pasir.

Penyu meninggalkan sarang bertelurnya sebelum membuat jejek sarang pengecoh. Lokasi sarang pengecoh tak jauh dari sarang. Saat itulah dimulai fase no parental care. Berbeda dengan telur ayam yang suhu eram telurnya dijaga banget sama sang induk.

Telur penyu sangat sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan sarang. Suhu sarang telur penyu itu mempengaruhi jenis kelamin tukik yang akan menetas.

Jika suhu terlalu panas di salah satu sarang, kemungkinan besar yang akan menetas adalah tukik-tukik betina semua dalam satu sarang tersebut.

Berkebalikannya, jika terlalu dingin yang akan menetas semuanya tukik berkelamin jantan.

Pengaturan suhu yang stabil dalam sarang telur penyu berguna dalam menjaga regenerasi penyu itu, setidaknya di Indonesia.

Kebayang  ga jika populasi penyu generasi baru didominasi oleh satu jenis kelamin saja?

Advertisements

Nonton Apa Kita? Going in Style

Going in Style

Going in Style besutan sutradara Zach Braff rilis tahun 2017. Film Amerika bergenre Komedi ini ialah film remake dengan judul yang sama tahun 1979.

Saya belum pernah nonton yang tahun 1979-nya. Pemeran utama adalah tiga aki-aki bisa dilihat dari poster film.

Terjebak oleh himpitan finansial memaksa para tetua ini merampok sebuah Bank di pusat kota. Ternyata tua dan penyakit tua tidak menghalangi mereka untuk “balas dendam” atas ketidakadilan kantor mereka yang pailit –selama puluhan tahun lamanya bekerja disana. Sehingga kantor mereka tidak dapat membayar pensiun yang sudah di janjikan tentu mereka angan-angankan sejak lama.

Pengalaman Joe Harding (diperankan oleh Michael Caine) sebagai korban perampokan di sebuah Bank menjadikan pelajaran untuk merampok Bank. Himpitan hutang dan finansial kadang membuat putus asa.

Film ini menceritakan proses merampok bank di Kota New York. Hasil tak pernah menghianati proses. Walaupun aki-aki dan sakit-sakitan, mereka berhasil! Selain cerita tentang rampok-merampok film ini menceritakan kondisi New York yang keras tentang mertua dengan mantan menantu juragan kecil ganja, tentang kakek dengan anak perempuannya yang single parent. Keras NY bahkan memaksa aki-aki merampok bank.

Keras NY bahkan rasanya saya tidak melihat adegan Halal Bi Halal merayakan penuh suka cita dan santan di film ini.

Padang Lamun: Rumah Mereka, Untuk Kita

Wilayah pesisir Indonesia tergolong cukup luas dan memberikan andil yang besar bagi kehidupan manusia. Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara pengaruh daratan dan laut. Wilayah pesisir Indonesia ditopang oleh 3 kekuatan besar, yakni terumbu karang, mangrove dan padang lamun. Ketiga ekosistem tersebut memiliki peran dan fungsi yang sama penting dalam menjaga eksistensi wilayah pesisir Indonesia. Hanya saja, dari ketiganya, padang lamun paling sedikit dikenal. Sialnya, padang lamun sering kali dianggap sebagai lingkungan yang tidak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Padang lamun dianggap tidak ada gunanya.

Lamun

Dalam ilmu biologi, lamun dengan rumput laut serupa namun tak sama. Rumput laut dalam bahasa inggris seaweed bukanlah tumbuhan sejati artinya tubuh rumput laut tersusun dari bagian yang menyerupai batang disebut dengan thallus dan bagian yang menyerupai akar (holdfast). Sedangkan lamun (seagrass) merupakan tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) memiliki akar, batang dan daun sejati.

Bingung?

Simple-nya, karena bukan tumbuhan sejati, rumput laut itu mekanisme transportasi garam-garam mineral dan penyerapan air pada tubuhnya sangat sederhana sedangkan lamun memiliki sistem transport sendiri.

Jika kamu pernah mendengar istilah “Padang Lamun” maka lokasi tersebut merupakan suatu hamparan banyak lamun. Sebab lamun memiliki akar sejati yang mencengkram substrat atau dasar laut sehingga berguna dalam pertahanan pantai dari gelombang dan arus laut. Lamun hidup pada perairan dangkal dan padang lamun manjadi tempat “tongkrongan” berbagai jenis ikan/hewan laut untuk berlindung, mencari makan, kawin, bertelur hingga membesarkan anak-anaknya.

Pada satu wilayah tertentu, ekosistem mangrove – padang lamun – terumbu karang bisa kita temukan secara berdampingan. Dalam lokasi yang berbeda mungkin hanya ditemukan salah satu atau hanya dua ekosistem saja.

Dalam sesuatu forum yang keren, Oktober 2009, tiga badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yaitu UNEP, FAO dan UNESCO meluncurkan laporan yang dikenal sebagai Blue Carbon Report. Keseluruhan tumbuhan mangrove, lamun, dan rawa payau dapat mengikat 235-450 juta ton karbon per tahun, setara hampir setengah dari emisi karbon lewat transportasi di seluruh dunia, ketiganya dapat mengunci lebih dari separuh karbon laut ke sedimen dasar laut.

Padang lamun menjadi sesuatu yang stategis dan penting, penyelamatan ekosistem lamun sudah seharusnya sejajar dengan Coral Triangle Initiative dan Mangrove for the Future.

Perairan yang kotor dapat merusak ekosistem lamun. Pembangunan yang tidak ramah lingkungan dapat merusak padang lamun.

Dugong

Dugong merupakan satu-satunya mamalia herbivora pemakan lamun yang hidup di perairan laut tropis dan subtropis Indo Pasifik. Dugong merupakan istilah umum yang digunakan dalam istilah ilmiah dengan nama lengkap Dugong dugon. Kita menjulukinya dengan duyung. Dugong memiliki panjang tubuh yang diperkirakan sekitar 2,4 – 3 meter dengan rentang berat badan mulai 230 hingga 908 kilogram. Dugong hidup secara berkelompok antara 5 hingga 10 ekor.

Ancaman kepunahan dugong di perairan Indonesia juga dipicu usia reproduksinya yang lambat. Dugong membutuhkan waktu 10 tahun untuk dikategorikan dewasa. Dugong betina mengandung selama 14 bulan dan hanya melahirkan satu individu pada interval 2,5 – 5 tahun. Sementara rentang umur hidupnya sendiri, diperkirakan hingga 70 tahun.

Sebagai mamalia laut, keberadaan dugong begitu penting dan nyata bagi suatu ekosistem padang lamun. Adanya dugong menandakan wilayah perairan tersebut subur. Ini dikarenakan dugong berandil besar dalam membantu siklus nutrien di alam, terutama saat ia memakan lamun yaitu dengan mengaduk substrat, dan begitu pula dengan hasil ekskresi yang dikeluarkannya.

Infografis Lamun 04 - Hubungan Duyung dan Lamun

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah memasukkan dugong sebagai satu dari 20 spesies prioritas. Dugong pun dilindungi UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya serta UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Secara internasional, dugong juga terdaftar dalam “Global Red List of IUCN” dengan status Rentan (Vulnerable). Dugong juga masuk dalam Appendix I CITES  (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora)  yang berarti bahwa bagian tubuhnya tidak boleh diperdagangkan dalam bentuk apapun.

Meski telah mendapat perlindungan, kehidupan dugong di Indonesia, nyatanya belum aman bahagia. Dugong menjadi satwa buruan karena daging dan minyaknya. Konon minyak dugong berkhasiat untuk menyebuhkan penyakit. Taring dugong dijual sebagai bahan pipa rokok. Pencemaran polutan, suspensi sedimentasi banyak terjadi, sehingga dugong menjadi payah hidup. Ancaman lain yang tak kalah mengerikan adalah bycatch atau tertangkapnya dugong oleh jaring nelayan karena tidak sengaja.

***

Bre, tulisan ini dari berbagai bahan yang gue baca. Seperti cerita Harimau Jawa dan Bali yang sudah punah disebabkan oleh habitatnya menghilang, dan gue gak pernah lihat bentuk yang hidupnya, jangan sampai kita kehilangan Dugong.

Fyi, dugong itu pemalu dan jinak, jika habitatnya rusak Dugong tidak akan mengamuk seperti Harimau Sumatera. Dugong paling mojok sedih tanpa perlawanan. Trus tiba-tiba kita gak pernah liat lagi.

Berapa jumlah Dugong yang tersebar di perairan Indonesia tidak ada rilis data yang akurat. Karena, sifat yang pemalu juga lautan kita luas dan (masih) penuh misteri. Ilmuwan bekerja keras untuk bisa mendata populasi Dugong.

Apa yang bisa dilakukan adalah terus menyebar kampaye pelestarian dugong dan padang lamun. Jika main ke pantai, jangan rusak/kotori lingkungan terutama padang lamun.

Jika kamu tertarik dengan issue lingkungan khususnya lamun dan duyung sila mampir ke Dugong and Seagrass Conservation Project pada link ini -> DSCP Indonesia

Salam Lestari!

#DuyungmeLamun