Budgeting

Sesuatu yang dipikir keren itu gak selalu keren. Ternyata seperti itu.

Seharian ini bikin budgeting survey untuk setahun kedepan. Seharian. Mencoba untuk tetap cool dengan mereduksi berbagai macam kekhawatiran kecil yang terjadi. Menurut saya, hal kecil itu penting untuk diantisipasi sebab biasanya banyak orang lebih sering memperhatikan masalah besar-besar saja. Ya ga?

Seharian ini sambil wara-wiri karena ternyata banyak anak mahasiswa lagi magang plus PKL, atur fokus yang senang ter-distract dengan bikin budgeting.

Bikin budget survey untuk kondisi saat ini, langkah pertama di 2018, antara ingin masuk dalam kondisi ideal atau realistis. Saya tidak punya ilmu khusus dalam pembuatan budgeting atau bahkan pengalaman selama ini tidak cukup sebab kami menjalanankan dengancara hajar bleh saja.

Fungsi dan manfaat budgeting yang saya tahu pada akhirnya saya paham, se-awam pemahaman biar ga banyak nombok.

Gitu aja yak. Cuma mau cerita akhirnya bikin budgeting, kayaknya udah seneng banget.

 

Advertisements

Spoiler

Coba diusahakan mencari sisi yang berbeda dari perspektif saya. Ogah rugi.

Yak! Saya suka Spoiler.

Saya percaya sistem kejut atas kemampuan memahami dalam menghadapi serunya dunia ini berbeda-beda pada setiap insan manusia. Maka cerita atas spoiler bagi saya hanya aroma bumbu yang dibawa angin dari wajan penggorengan. Setiap orang mempunyai rasa yang berbeda dalam menikmati.

Selain sampul yang menarik apa yang menyebabkan kamu membeli sebuah buku? Pengantar di sampul belakang? Sebuah upaya penerbit agar buku yang sudah dicetaknya laku. Saya salah satu pendorong membeli sebuah buku adalah review, syukur dapat spoiler.

Begitu pula dalam menikmati serial korea. Saya butuh spoiler. Sisanya biarkan imajinasi dan mood saya yang bekerja, walau terkadang pengaruh ekspresi dalam memikmati sebuah agedan terpengaruh oleh spoiler yang sebelumnya sudah saya dapatkan.

Namun, bolehkan kamu tidak memakan semua tulisan ini bulat-bulat? Sebab biarlah tahu yang boleh bulat.

Terimakasih.

Pertama Trail Running

Sebagai insan yang sering terjebak definisi, mari kita kesampingkan perbedaan mahzab tentang Trail Running. Hindari perdebatan, mari berpelukan dan sila menikmati tulisan ini. Semoga terhibur.

Saya menemukan foto lama di salah satu media sosial milik saya. Pengalaman pertama saya trail running yakni April 2014. Gunung Geulis, Sumedang. Mematahkan ketidakyakinan bahwa berlari di gunung adalah sebuah pertempuran yang hebat, bagi saya.

Bermodalkan pijaman baju beneran lari bermerk dan tas lari hasil doorprize salah satu gerai alat-alat outdoor, celana basket dan sepatu andalan ketika itu (sepatu olahraga jatah kantor), bersama adik meluncur ke Gunung Geulis yang konon memiliki ketinggian 1200-an mdpl.

Titip motor di sebuah warung, hantam tanjakan dan salip beberapa pendaki, akhirnya sampai di puncak. Bertemu beberapa pendaki yang berkemah, sedikit basa-basi dan mengatur napas. Kemudian lanjut turun dengan jalur yang berbeda ketika mendaki. Sempat bertemu anak-anak yang sedang berolahraga paralayang.

Hingga akhirnya, pada tulisan ini saya hanya ingin memamerkan foto pertama kali saya ngetril-ngetril-an, sungguh sangat bangga sekali dengan sepatu kotor karena beberapa kali kepleset :

10001357_1389102994713995_7238449397218424237_n

 

Interval dan Pace

Efek dari Nusantarun adalah banyak kawan di media sosial dari kalangan pehobi lari dan berdampak banyak melihat posting tentang kegiatan olahraga lari.

Sejak di bangku sekolah dasar, jiwa kompetisi saya dalam memenangkan perlombaan tidak terlalu bergairah. Bahkan dalam ujian praktik mata pelajaran olahraga. Saya tidak terlalu menikmati suasana “menang” tapi saya lumayan menikmati suasana “benar”.

Bingung?

Saya tidak menikmati kemenangan entah itu menang ujian lari ketika pelajaran olahraga, atau menang point ketika bermain kasti. Namun saya senang jika gerakan saya “benar” ketika mata pelajaran atletik. Entah itu stand hand, kayang, back roll dan kawan-kawan. Bangga jika gerakan saya sudah benar dalam melakukan

Saya pun tidak menikmati berolahraga group : futsal, volley, sepak bola. Kecuali Basket, menurut saya itu keren. Banyak maunya!

Renang, Menyelam, Hiking dan Jalan Kaki saya menyenangi kegiatan tersebut. Jika selanjutnya saya menikmati olahraga lari dan mengikuti beberapa perlombaan yang sebisa mungkin gratis, saya istikomah tidak mengejar podium atau Personal Best sekalipun. Tipikal pelari komplek yang pemalas memang.

Race atau perlombaan adalah bagi saya membangun mental untuk menyelesaikan misi. Selesaikan apa yang sudah dimulai, yang penting finish. Memang keseruaan dari perlombaan lari bagi pelari santai macam saya ini adalah melawan ketidakpercayaan diri dalam menyelesaikan lomba.

Akhirnya saya sampai pada paragraf pertama tulisan ini.

Saya banyak melihat posting tentang kegiatan olahraga lari, melihat kemampuan berlari yang keren-keren. Dalam etalase media sosial, saya menyaksikan metamorfosis kawan-kawan baru media sosial saya ini. Betul memang jika beberapa sudah berbadan bagus dan sudah memiliki gaya hidup yang sehat. Beberapa tidak.

Akhirnya saya sampai pada paragraf pertama tulisan ini.

Selama ini saya berlari yang penting berlari. Mengayunkan kaki melangkahkan jejak. Koran buram sisa gorengan memuat tentang Interval Training yang dipercaya dapat meningkatkan Pace. Sambil memamah gorengan, pelan-pelan saya baca artikel dibungkus gorengan sambil membayangkan diatas podium. Kan duitnya mayan…

Changing your life is hard. It’s also hard when you don’t believe in yourself – Juan Serrano

NusantaRun : berlari, berdonasi dan berkomunitas

Masih pukul 7 pagi kurang, setelah melahap sepiring nasi uduk dekat kantor. Menyeduh kopi sasetan. Playlist memutar Tulus – Manusia Kuat. Sebentar, saya cek data dulu.

Oke, aman. Data belum tiba. Baiklah, mari menulis.

Kau bisa patahkan kakiku. Tapi tidak mimpi-mimpiku. Kau bisa lumpuhkan tanganku. Tapi tidak mimpi-mimpiku

Saya akhirnya mengikuti Nusantarun Chapter 5. Beruntungnya saya bisa menyelesaikan misi Nusantarun berlari sejauh 63 Km (half course) dari Banjarnegara sampai Dieng. Sejatinya Nusantarun Chapter 5 ini full course dari Purwokerto sampai Dieng 127.9 Km.

Apa itu Nusantarun?

NusantaRun (NR) adalah sebuah “running movement” dimana kecintaan pada olahraga lari bertemu dengan jiwa sosial sebagai wujud cinta terhadap negara kita, Indonesia.

Apa misi Nusantarun chapter 5?

Berlari sejauh 127.9 Km dari Purwokerto menuju Dieng padan tanggal 15-17 Desember untuk penggalangan dana. NusantaRun bersama IOA (Indonesian Oversea’s Alumni) akan menggunakan 100% hasil donasi untuk pengembangan 400 guru di Dieng.

Kurang lebih penjelasan tentang nusantarun seperti diatas ya. Sampai tahun 2017 sudah digelar 5 kali.

Nusantarun 4, Cirebon – Purwokerto

Pertama kali saya ikut NR adalah tahun 2017, chapter 4. Karena jatah libur yang terbatas, saya sebagai tim support alakadar adik saya dari Stasiun Purwokerto hingga finish line di Alun-Alun Purwokerto yang mana hanya berjarak 1 Km.

Saat itu membayangkan adik yang berlari jauh, sendirian, saya memutuskan untuk menemaninya setidaknya ketika pulang dari NR menuju rumah ada yang membawakan barang-barangnya. Tiba di Purwokerto pagi, sejam sebelum COT adik saya melintas di dekat Stasiun, saya temani berlari hingga finish line. Sore hari langsung cabut ke Jakarta.

NR4 adik saya blisteran, 1 km yang penuh perjuangan. Saya hanya bisa menyemangati sembari mengingatkan finish sudah dekat, ikut lelarian juga.

NR5

Kami berlari ber-3. Kami berlari atas komunitas swl.runners.

Pelari Nusantarun sebagian besar adalah pelari komunitas, memakai jersey kebanggan beserta atributnya. Beberapa sudah ada yang salig kenal antar komunitas, saling berbincang dan bertukar kabar.

Flag off, kami mulai berlari melewati gate start tepat pukul 12 siang bolong panas terik. Saya mengamati perlari masih bergerombol. Tenaga masih full, tanjakan belum ganas. Lapas kilometer ke-5 gerombolan sudah pecah menjadi pecahan-pecahan kecil. Beberapa pelari terlihat sedang bercakap-cakap ternyata kawan lama. Saya sempat ngobrol dengan pelari dari Unpad Runners.

Sudah mulai banyak tanjakan, beruntung saya bertemu dengan mobil support dari anak-anak Bandung. Refill minuman plus di semprot, segerr. Selanjutnya tak habis-habisnya saya bertemu dengan tim mobil support, dari berbagai komunitas. Baik-baik super kece!

“refill air, mas?”

“kakinya aman? ada koyo nih”

“minumnya masih ada?”

“ada makanan nih. ada gorengan nih. yang manis-manis mau?”

Check point pun diisi oleh komunitas. Mereka menyediakan makanan dan minum. Menyeduhkan minuman hangat ataupun makanan hangat kepada para peserta dari apapun jersey yang dikenakan.

Check Point dan Tim Mobil Support adalah beberapa hal yang kece.

Kami berlari, kadang berjalan, namun tak khawatir ketika ada pelari dibelakang. Begitupun ketika ada pelari yang menyalip dengan sopan meminta ijin sambil memberikan semangat kepada pelari yang disalipnya.

Setiap pelari NR5 masuk dalam sebuah group chatting, semua informasi tertuang di dalam group tersebut. Suasana group sungguh sangat sejuk, walaupun kadang sedikit miskomunikasi tapi diselesaikan dengan ramah. Saya termasuk silent reader. Menikmati setiap percakapan. Seru.

Pada akhirnya, NusantaRun, terasa seperti keluarga baru. Bukan Full Course atau Half Course namun NR adalah tentang berbagi. Jika berselancar di dunia maya, baik pelari maupun relawan memberikan testimoni positif terkait acara ini.

Terimakasih.

sebab ikut lari antar kota karena adik ini. #BrotherHood #NR5 #NusantaRun

A post shared by Tival Godoras (@tivalgodoras) on

Bekerja di Natal

Awal Desember 2017, saya mendapat tugas mendadak ke Kecamatan Natal untuk selama dua hari perjalanan dan dua hari bekerja. Sebab tugas mendadak saya belum sempat googling Natal seperti apa selain informasi yang saya dapat bahwa Natal adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Oke, sebenarnya informasi pekerjaan ke Natal sudah diberitahu dua minggu sebelum berangkat namun siapa dan kapan berangkat itu masih misteri. Begitulah.

Ada banyak jalan menuju Natal, diantaranya melalui Sumatera Barat mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Pesawat mendarat di BIM selepas Dzuhur kemudian lanjut menggunakan mobil. Siap pukul 14 mobil meluncur menuju Mandailing Natal atau juga dikenal dengan akronim “Madina”.

Perjalanan relatif datar, kami menyusuri Pantai Barat Sumatera. Ketika semburat jingga sudah bermunculan di angkasa, sayup-sayup gelombang adzan magrib terdengar. Waktu sudah menunjuk waktu senja. Jam makan malam tiba, menjadikan perjalanan kami dari BIM sudah 4 penuh dan Natal belum sampai.

Perjalanan selanjutny, selepas makan malam, mulai berkelok dan mendaki, saya tidak tahu nama daerahnya. Lelah karena kaki lama terlipat di bangku mobil paling belakang. Rombongan mobil ada 3 buah dan seringkali kami nyasar salah ambil jalan. Selain tidur kegiatan yang saya lakukan adalah mencari donasi #NR5.

Natal tiba ketika waktu menunjuk pukul 01.30 dini hari.

Setelah mendapat kamar istirahat, segera ganti baju, saya langsung tidur tanpa mandi. Biarlah kawan-kawan yang lain mengantri kamar mandi.

Banyak masjid dan warga berbusana muslim di Natal, sebab Natal sejatinya banyak dihuni oleh keturunan Minangkabau. Jika ki sanak penasaran sabab musabab nama Natal di Mandailing Natal, coba tengoklah di wikipedia karena saya pun mendapatkan penjelasan yang sama dari nelayan setempat tentang cerita Natal ini.

Natal ini sebagai kecamatan bukan Natal yang sering kita saksikan di media yang acapkali ramai di Republik ini ketika akhir tahun. Begitulah.

Pagi saya bangun, segera mandi dan jalan-jalan pagi. Hari sabtu yang cukup sejuk setelah semalam sedikit dihajar hujan. Jalanan yang becek saya laju demi mencari warung penjual minuman kemasan. Pak haji, pembeli sebelum saya memanggilnya, memberi saya minuman kemasan dan pasta gigi. Deburan ombak yang mengantam pantai sayup terdengar. Beberapa bocah SD kencing di pinggi selokan berjamaah sambil bercanda. Alun-alun yang sepi dengan latar RSUD dan tampak Kantor Kepolisian Sektor.

Pantai Natal yang berpasir, sepi. Angin cukup besar. Jika dilihat fasilitas sekitar pantai, mungkin pantai ini adalah salah satu fasilitas rekreasi masyarakat lokal. Beberapa perahu kecil wara-wiri mengisi frame imajimer saya ketika duduk di bangku-bangku pantai.

IMG_20171209_063339

Makan sebagai muslim di Natal tidak jadi masalah karena banyak muslim daerah ini (seharusnya) banyak makanan seafood. Namun, Natal bukan destinasi wisata dimana sulit mencari warung makan. Warung makan sedikit sekali, kawan. Pengalaman yang sudah sering kami dengar tentang warung makan dan pada akhirnya kami mengalami adalah beberapa warung sering “getok” harga mahal.

Pulau Telur

Momentum berlayar beberapa jam bersama nelayan di Natal mengantarkan saya berlabuh di Pulau Telur. Hamparan pasir disekitar pantai dengan pulau tak berpenghuni. Kabarnya pulau ini salah satu pulau untuk sandar terbaik untuk sekedar makan siang. Pulau tanpa dermaga mengharuskan turun kapal langsung nyebur kelaut baru menuju pulau.

Pulang dari laut, menuju penginapan. Tak lupa makan mie instan. Packing dan siap menuju Bukit tinggi.

IMG_20171210_111714

Sering bertemun dengan nelayan memberi pengalaman untuk berinteraksi dengan nelayan dari berbagai daerah. Kadang saya sering mendapatkan pelajaran apa itu perjuangan dan bagaimana menjadi kelas ketiga di Negara ini.

“Semua anak saya sekolah, pak. Biarlah bapaknya saja yang menjadi nelayan”

Tanpa tuak, bersama para nelayan, saya sering mengalami kebersamaan dalam canda dan guyon sebagai cara menikmati apa yang disebut perjuangan.

Lapau Di Kampung

Lapau di kampung masih dengan kopi setengahnya, permainan koa dan tentunya diskusinya.

Beberapa kaum menentang kebiasaan nongkrong di lapau namun beberapa berpendapat nongkrong di lapau adalah sebuah kebudayaan yang harus dilestarikan. Saya tekankan, nongkrong di lapau malam hari adalah sebuah budaya di minangkabau yang sejalan dengan mengaji di surau. Disayangkan jika dewasa ini, “nongkrong” di surau sudah lama ditinggalakan.

Hawa dingin kampung sejak siang tadi hujan, tidak menggangu ramainya cerita di lapau. Warga kampung di lapau sangat pandai bercerita, lengkap dengan ekspresi dan pancingan gelak tawa.

Setiap pengunjung lapau punya gaya bercerita masing-masing. Setiap pengunjung lapau mempunyai cara tertawa yang khas. Setiap pengunjung memiliki selera kopi yang berbeda. Malam ini, setiap pengunjung lapau memiliki topik yang sama. Punya semangat yang sama. Malam ini, setiap pengunjung lapau memiliki bahasan yang diulang-ulang.

Lapau ramai dengan para pemuda dan kaum gaek.

Bagi pengunjung lapau yang tidak memiliki bahan cerita yang sama, mendengar dengan khusuk. Bahkan bagi pengunjung yang tidak memiliki bahan cerita yang sama, sebab satu dan lain hal, sering mengingatkan salah satu pencerita jika ceritanya kurang runut dan tolong diceritakan cerita yang ter-longkapi.

Malam itu, suara dari balik ponsel saya sangat riang gembira. Satu per satu pengunjung lapau ingin bercerita, beberapa menjadi wasit agar cerita ini jangan diceritakan sebab lebih rancak diceritakan oleh si itu kemudian itu lebih baik si ini yang menceritakan bahkan saya dianggap sebagai pengunjung lapau yang sedang duduk jauh ratusan kilometer dari lapau di kampung.

Tentu saya tanpa kopi setengah, permainan koa dan jaket tebal melawan dingin.

Sudah lama rasanya tidak telponan lama hingga kuping terasa hangat. Cerita yang diceritakan diulang-ulang, percayalah, diulang-ulang, namun setiap gelak tawa saya terasa baru dan hangat.

Terimakasih,

Salam.