Internet

Perkenalan saya dengan ‘internet’ pertama kali ketika usia sekolah menengah atas. Bagi seumuran saya, kenal internet di umur SMA adalah hal yang biasa. Teknologi belum sepesat saat ini.

Menariknya bukan di kota besar namun dari sebuah desa di Sukabumi saya mengenal internet. Itu juga butuh satu jam perjalanan ke Kota Sukabumi dengan sekali naik ojek lanjut 3 kali nyambung angkot.

Saat itu mulai booming Friendster. Buat saya situs pertemanan tersebut sebenarnya malah mengopek-kopek luka homesick karena berjauhan dengan kawan-kawan SD-SMP saya. Beberapa kawan saya ternyata ada yang sudah familiar dengan  internet, sialnya mereka tipikal bocah show off dan [menurut saya] kurang mengayomi. Lebih banyak cerita tanpa mau ngajarin asiknya berselancar di internet. Mungkin saat itu internet masih mahal, belum banyak warung internet.

Saat waktu lapang, saya lebih tertarik pergi dengan penjaga sekolah. Pergi jalan-jalan ke bukit atau masuk ke dalam goa (cave) yang dijaga juru kunci. Buat saya niat vakansi dengan penjaga sekolah adalah merokok.

Penjaga sekolah ini mantan preman, punya banyak kawan preman dan pasti dengan cerita heroik beliau ketika bergelut dengan dunia premanisme.

Saat itu, ada satu bocah yang sangat seru bercerita tentang komputer dan internet. Suka saya ajak juga jalan-jalan vakansi bersama penjaga sekolah. Dulu dia yang buat saya kagum dengan kemampuan mengetik 10 jari. Sungguh sangat skill skali!

Kemana arah tulisan ini? hah haha…

Saya sedang ada project yang memaksa saya harus sedikit paham tentang coding dan programing. Cukup keser-keser mengikutinya. –Keser-keser itu bahasa mana ya? Saya tahu kata tersebut di Semarang 😀

Ketika saya harus berurusan dengan sewa hosting dan domain, seketika itu menyambungkan silaturahmi dengan bocah yang seru bercerita tentang komputer dan internet.

Advertisements

Sawahlunto dalam Google Maps

Sawahlunto dalam Google Maps

Sawahlunto. Sebuah kota pertambangan tua yang nyempil disebuah lembah diantara barisan Bukit Barisan, Sumatera Barat.  Meninggalkan jejak sejarah kawasan Sawahlunto kota. Lebaran tahun ini, sebuah perjalanan menuju kampung halaman menjadi cerita tersendiri : menggunakan moda transportasi bis yang nanti saya ceritakan dilain kesempatan.

Sawahlunto dalam Google Maps

Apakah kamu, jika kita sedang bertatap muka, kemudian saya berikan dua pertanyaan kamu dapat menjaawab keseluruhan pertanyaan?

  1. Apakah kamu tahu Sawahlunto?
  2. Kota apakah yang bertetangga dengan Sawahlunto?

Tentunya saya ingin membantu bahwasanya Google Maps sudah sedikit mengenal Sawahlunto. Ijinkan saya membagian beberapa sudut Sawahlunto melalui Google Maps.

Puncak Polan, Puncak Guak Sugai

Bagi sebagian orang, puncak ini dikenal dengan Puncak Polan atau Puncak Poland. Konon, menurut cerita, sekali lagi konon, puncak pada bukit tersebut ada seorang berkewarganegaraan Polandia meninggal. Entah bagaimana sabab musabab meninggal warga Polandia tersebut.

Yang menarik, sebagaian warga lokal masih menyebut dengan Puncak Guak Sugai. Saya lebih suka dengan nama lokal.

Apa yang menarik dengan lokasi ini? Jika kamu berdiri diatas pucak ini kamu akan melihat Sawahlunto dikelilingi oleh perbukitan, mirip sebuah kota di dalam kuali. Maka, kamu juga akan tahu jika Sawahlunto dikenal dengan istilah ‘Kota Kuali’.

Mesjid Agung Nurul Islam Sawahlunto

Salah satu bagunan megah di Sawahlunto dengan ciri-ciri tower masjid menjulang tinggi ke angkasa. Sejatinya bangunan Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto adalah sebuah Pembangkit Listrik dengan cerobong asap yang sekarang menjadi tower masjid.

Museum Kereta Api Sawahlunto

Sebagai bekas kota pertambangan batu bara, distribusi produksi batubara pada saat itu menggunakan kereta api. Bagaimana cerita perkembangan perkeretaan apian di Sawahlunto bisa kita dapatkan di museum ini. Legenda hidup lintas zaman dapat kamu saksikan di museum ini, beliau adalah Mak Itam sebuah lokomotif uap seri E1060 buatan Jerman.

Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero

Tidak ada kota jika tidak ada batu bara. Di Museum ini kamu bisa merasakan sebuah perjalanan sejarah dan geologi. Masuk kedalam lubang penambangan dalam batubara artinya kamu masuk kedalam situs penambangan batubara di dalam perut bumi. Seru kan?!

https://www.google.co.id/maps/place/Museum+Situs+Lubang+Tambang+Mbah+Suro+%26+Infobox/@-0.6795184,100.776985,17z/data=!4m12!1m6!3m5!1s0x2e2b2f40cb601d15:0x1cbe4a0ef351f474!2sMuseum+Situs+Lubang+Tambang+Mbah+Suro+%26+Infobox!8m2!3d-0.6795184!4d100.7791737!3m4!1s0x2e2b2f40cb601d15:0x1cbe4a0ef351f474!8m2!3d-0.6795184!4d100.7791737

Museum Goedang Ransoem

Entah mengapa harus menggunakan ejaan lama, biar berkesan jadul mungkin. Sangat bersejarah. Apabila kamu membaca tentang sejarah Kota Sawahlunto, maka kamu tahu jika dahulu Sawahlunto pernah menjadi salah satu kota pertambangan batu bara yang terintegrasi. Ketika membutuhkan tenaga penambang paksa yang masif maka membutuhkan sebuah dapur umum yang masif pula. Datang-datanglah ke Museum Goedang Ramsoem dirimu akan belajar tentang mekanisme dapur umum besar yang ternyata pernah dioperasikan di Sawahlunto.

Sebebernya masih banyak lokasi yang seru di Sawahlunto sebagian yang saya ceritakan diatas bisa kamu cari di Kak Google Maps. Terimakasih

21K

Sejak 2013, sebab patah hati dan berniat kembali ke bangku sekolah, saya memulai ritual olahraga berlari. Sebagai pelari komplek, istikomah adalah musuh terbesar saya.

Sepengalaman saya jarak paling jauh berlari adalah 17K, ketika Garuda Finisher dengan segala sumpah dan serapah menemani saya berlari. Kebetulan saya ditemani dengan seorang kawan yang doyan grundel. Istimewa.

medal jaya #idr2014

Sebuah kiriman dibagikan oleh Tival Godoras (@tivalgodoras) pada

Sebagai pelari komplek pun saya berpegang teguh dengan lomba-lomba gratis. Untuk satu hal ini saya cukup konsisten.

Kemudian saya mencoba trail running di Cirebon tahun 2016, dengan bayar seikhlasnya. Alhamdulillah, Finish 10K Trail Running perdana.

#CiremaiTrailRun #Cirebon #trailrunning #SlankyLecet #OjoKendor #trail #CirebonRunners #Core

Sebuah kiriman dibagikan oleh Tival Godoras (@tivalgodoras) pada

KRB200

Maka, setelah 4 tahun semenjak berlari saya memulai dengan lomba berbayar. KRB200 adalah pengalaman perdana saya ikut lomba lari berbayar dan lonng run.

Persiapan saya cukup mutakhir, kebetulan semesta mendukung. Beberapa kesempatan saya dapat dinas luar kota selama 5 hari, menuntut saya harus snorkling setiap hari. Saya juga sempat hiking selama beberapa hari. Mengurangi rokok. Saya juga intens latihan.

KRB200 untuk saat ini adalah yang terbaik buat saya. Aing bisa finish tanpa pengsan!

#krb200 #tabahsampaiakhir #jangankasihkolor #finishstrong

Sebuah kiriman dibagikan oleh Tival Godoras (@tivalgodoras) pada

Akhiru kalam, sebagai bentuk riya karena telah menyelesaikan 21K video ini saya buatkan. Hah haha haha…

Etape Pertama

Cerita ini adalah perjalanan setahun sejak kemunculan ide. Pada perjalanan awal, saya hanya berjalan santai, berkomunikasi dengan beberapa orang dan saling berdiskusi.

Mudah atau sulitnya perjalanan tentu relatif, untuk saat ini perjalanan saat ini yang terasa cukup berat.

Setahun belakangan saya berinteraksi dengan sebuah kota, cukup jauh dari tempat saya menulis cerita ini. Masih di Indonesia walaupun kami sering miskomunikasi sebab perbedaan gaya berbicara.

Apa yang saya rasa adalah sebuah persaudaraan dan cita-cita untuk bergerak maju bersama. Sejauh yang saya rasakan, masyarakat lokal sangat antusias dengan ide-ide yang saya gelontorkan dengan gaya penyampaian yang sangat jakartans. Saya bukan ahli marketing atau sesorang paham/tertib tata cara etika public speaking.

Beruntung saya berkesempatan bertemu dengan orang-orang yang di-tokoh-kan oleh masyarakat, orang-orang yang penuh asam garam meladeni masyarakat setempat.

Saya berkesempatan berbicara dengan pendekar kampung, seorang guru silat. Usia sepuh yang powerfull ketika berbicara dan semua cerita tentang masalah (apapun masalahnya) ditanggapi dengan tertawa terbahak-bahak. Pesan kepada saya, jika ada yang macam-macam kepada saya, pertahanan pertama adalah sebut namanya beliau. Tipikal pendekar!

Sayapun sempat menemui seorang khatib surau, yang lebih banyak mendengarkan dan santun merespon. Pertemuan-pertemuan selanjutnya di surau setelah magrib hingga isya. Selama berbicara dengan beliau, senyuman yang tak pernah putus. Doa yang selalu diingatkan kepada saya.

Ada juga Pak Kadus (Kepala Dusun), sejak saya pertama merealisasikan ide, pak dusun ini yang selalu menemani dan antar jemput saya. Pak kadus adalah mitra terdekat saya. Sangat dekat. Beberapa kali saya dapat bertemu dengan masyarakat lokal atas jasa pak kadus.

Perjalanan ide ini adalah sebuah perjalanan proses. Saya merasakan dan melihat sebuah daya yang sangat positif di daerah. Semangat gotong royong dan aktifitas nyata dari gotong royong itu masih ada. Walaupun, beberapa orang dengan kemampuan mencabik-cabik semangat warga kampung masih ada sebiji-dua biji.

Apakah di desamu ada orang yang energinya selalu negatif? tukang merendahkan semangat orang? orang-orang yang dengan sadar menjatuhkan mental orang lain?

Beruntungnya, saya masih menemukan beberapa tokoh yang masih mau menjadi tukang jahit atas perbuatan para pencabik.

Jika ternyata saya memiliki sebuah perjalanan proses lainnya itu cerita lain, tapi masih sejalan tidak akan menerkam satu sama lain. Aamiin. Saya belum bisa bercerita banyak selain terimakasih. Terimakasih mau membaca.

Dalam cerita ini, saya masih di perjalanan etape pertama. Saya yakin banyak cerita seru selanjutnya.

ke Pekalongan, Banjir Rob

Sebagai ‘veteran’ Semarang, saya sedikit kaget dengan isu banjir rob Pekalongan yang sudah menahun melanda. Sebab, yang saya tahu, Semarang langganan banjir Rob. Singkat cerita, dibuat sebuah tim, termasuk saya, yang jujur hanya sebagai pengembira.

Tujuan pertama adalah Kantor Kabupaten Pekalongan yang dilanjutkan melihat kondisi yang terdampak banjir rob. Kemudian lanjut ke Kantor Kota Pekalongan. Tentu kita tidak bisa melihat fenomena banjir sebagai masalah administratif saja namun harus konprehensif.

Saya tidak akan banyak cerita tentang pekerjaan saya di Pekalongan.

tivalgodoras_pekalongan_1

Foto diatas itu rumah masih berpenghuni. Kenapa rumah sangat pendek karena dampak dari banjir rob, pondasi rumah ditambah sedangkan atapnya tetap. Saya ingat sebuah rumah kawan di Semarang yang berdiri di daerah terdampak banjir rob. Bahkan, mungkin, karena tidak punya biaya beberapa rumah saya lihat menggunakan perahu dari drum untuk alat masuk kedalam rumah, seperti foto dibawah ini.

tivalgodoras_pekalongan_2

Beberapa sarana publik seperti kantor desa, pasar bahkan sekolah juga sudah terdampak banjir rob. Permasalahan yang timbul dari banjir rob ini adalah tentunya kesehatan, tanah yang tidak produktif dan harga tanah yang rendah. Bahkan di daerah yang terdampak banjir rob tidak dikenakan pajak oleh pemerintah setempat.

Rob adalah kata yang diambil dari bahasa jawa. Secara umum, banjir rob adalah banjir yang disebabkan oleh naiknya permukaan air laut.

tivalgodoras_pekalongan_4

Beberapa tambak mengunakan jaring sebagai pembatas kepemilikan tambak. Tentunya bendung banjir rob bukan salah satu cara jitu, walaupun ada ribuan cara menanggulangi banjir rob. Semoga daerah terdampak rob segera bisa terselesaikan masalahnya.

tivalgodoras_pekalongan_3

4 hari di Pulau Biawak, Indramayu

Sejatinya bernama Pulau Rakit. Berlokasi di utara Kabupaten Inderamayu, Jawa Barat ini juga dikenal dengan Pulau Biawak. Jika kamu menggunakan perahu nelayan dari Indramayu akan memakan perjalanan sekitar 4 jam.

Bisik-bisik tetangga kamu bisa menuju Pulau Biawak melalui Cirebon menggunakan speedboad dengan kemampuan tempuh 1 – 1,5 jam.

Pulau dengan luas sekitar 120 hektar ini banyak dijumpai banyak biawak (Varanus salvator), sumpah banyak banget. Selain ikan, selama disini kamu akan sering berjumpa dengan biawak baik di darat maupun di laut.

Maka ijinkan saya untuk bercerita pengalaman 4 hari di Pulau Biawak.

Hari 1 – Pasang Surut Laut

Koordinasi yang matang dengan pemilik jasa perahu untuk menuju Pulau Biawak adalah keniscayaan. Keluar-Masuk perahu sangat dipengaruhi oleh jadwal pasang-surut baik di Indramayu (Pulau Jawa) maupun ketika di Pulau Biawak.

Perahu bisa bergerak ketika air pasang, tentu ketika surut perahu akan kandas. Saya memulai perjalanan ke Pulau Biawak dari Indramayu, pas shubuh dengan sedikit terburu-buru karena berangsur air surut.

IMG_8605

Sekitar 1 jam, perahu akan menyusuri sungai menuju Laut Jawa, pemandangan sekitar adalah hutan Mangrove. Selama menyusuri sungai, kamu masih bisa mendapatkan kuota internet.

15 menit masuk Laut Jawa, fungsi dasar hape mu sudah hilang. Airplane mode on. Kecuali MP3 Player, Video Player dan Kamera yang masih bisa kamu manfaatkan. Mending dipakai untuk tidur atau ngobrol dengan nelayan.

Pulau biawak, sebuah pulau yang dibentengi dengan terumbu karang untuk dapat masuk ke dermaga juga dipengaruhi pasang-surut air laut.

Kamu akan disambut oleh sebuah mercusuar yang kokoh dan dermaga yang letoi. Sila baca caption foto diatas.

Disambut biawak di Pulau Biawak

Pulau ini menyediakan beberapa kamar yang dikelola oleh dinas perhubungan, penjaga mercusuar ada satu orang yang berganti ship tiap 1 bulan sekali.

Listrik hanya ada ketika malam saat genset dinyalakan, itupun dari jam 18 sampai jam 24. “menghemat BBM”, jawab penjaga mercusuar.

Air tawar yang tersedia adalah air tadah hujan yang ditampung kedalam toren-toren. Ketika listrik menyala maka air tanah disedot dimasukan kedalam bak kamar mandi. Air tadah hujan digunakan untuk kebutuhan masak memasak dan mencuci perlengkapan masak. Sedangkan air tanah hanya untuk mandi saja. Air tanah agak berbau sedikit.

Air tawar yang menjadi madu bagi nelayan untuk mampir di Pulau Biawak. Bagi penjaga mercusuar yang sendiri menjaga kedatangan nelayan menjadi pengisi kesunyian. Terkadang nelayan memberikan hasil tangkap atau sedikit BBM dan sebuah pertemanan. Sebuah muatualisme.

Satu hal yang luput oleh saya dan rekan-rekan, yang berencana bermalam lama di Pulau Biawak adalah membawa Tukang Masak. Dari Indramayu kami sudah membawa perbekalan dan segala rupa persiapan untuk mengisi perut selama di Pulau Biawak, tapi kami tidak membawa orang yang jago masak. So, selama 4 hari di Pulau Biawak saya makan ala nelayan. Yang penting perut terisi.

Sore kami dihabiskan dengan orientasi medan, mengelilingi Pulau Biawak dengan perahu. Sore banyak perahu nelayan yang bersandar, beberapa asik memperbaiki jaring, beberapa asik memberi makan biawak.

PBiawak_GE_TivalGodoras

Hari 2 – Tiga Pulau

Biawak_L8_TivalGodoras

Jika kamu lihat gambar diatas adalah perekaman citra satelit Landsat-8 untuk daerah Pulau Biawak dan kawan-kawan. Pulau Biawak yang ada hijau-hijaunya. Tepat diatas pulau biawan adalah Pulau Gosong dan yang paling utara dinamakan dengan Pulau Cendikian.

Warna hijau bisa diartikan dengan sebuah pulau yang bertanah (ada tanahnya), sedangkan warna biru untuk interpretasi terumbu karang, sedangkan warna hitam adalah perairan yang dalam. Maka, Pulau Gosong dan Pulau Cendikian adalah sebuah Terumbu Karang yang kokoh dan dekat dengan permukaan perairan. Kadang disebut juga dengan istilah Reef Flat atau Terumbu Paparan, tentu saya bisa saja salah mengambil istilah ini. Maaf.

Saya lupa, bahwasanya selama 4 hari di Pulau Biawak adalah dalam rangka bekerja. Hari kedua saya habiskan di Pulau Cendikian (yang paling utara). Dari perahu bisa turun jangkar, masuk dengan cara fin swimming sampai kedalam goba Pulau Cendikian. Goba bisa diartikan bulet-bulet hitam di dalam lingkaran biru itu. Kalo yang biru-biru di interpretasikan dengan terumbukarang, maka dasar goba adalah pasir putih hasil dari pecahan karang yang sudah jadi butiran.

IMG_9899

Cerita nelayan yang mengantar bahwa di Pulau Cendikian jika beruntung kita bertemu dengan kuncen pulau yang cukup sakti. Hari kami kesana tidak berjumpa.

Tertahan 2 jam di dalam perahu karena hujan yang sangat lebat.

Hari 3 – 2 Makam Keramat

Hari ke-3 saya baru tahu jika ada dua makam yang dikeramatkan. Satu makam seorang syeik dan satu makam belanda ZM Williem (kuncen pertama mercusuar). Kedua makam jika dari dermaga bersebrangan arah. Cerita-cerita tentang Pulau Biawak ini banyak saya dapatkan dari penjaga mercusuar. Saya tidak sempat ke kedua makam itu.

Pekerjaan menuntut saya menuju Pulau Gosong. Kalo kamu jeli, di pulau ini ada inlet atau pintu masuk di selatan pulau. Pintu masuk ke dalam goba cukup lebar dan dalam.

Kondisi terumbu karang di pulau-pulau ini menurut saya cukup baik tapi tidak terlalu mewah bagi yang pernah diving di Indonesia Timur.

A post shared by Tival Godoras (@tivalgodoras) on

A post shared by Tival Godoras (@tivalgodoras) on

Hari 4 – Makroalga tertutup Mikroalga

Hari ke-4 banyak dihabiskan eksplore Pulau Biawak. Pengamatan saya, banyak sekali mikroalga yang tergenang dan juga menutupi substrat pantai pulau ini. Mungkin produktifitas di daerah sini tinggi sehingga banyak nutrien. Namun, sepengamatan saya, nutrien-nutrien yang menjadi mikroalga menutupi substrat dasar. Cilakanya bagi makroalga yang tertutup mikroalga menjadi mati sebab terganggu fotosintesis.

Faedah selama di Pulau Biawak

hal yang sangat saya nikmati adalah jauhnya dari jaringan telpon apalagi internet. Kamu akan jauh dari media sosial bahkan jauh dari sinyal hape. Dihari pertama saya sempat nonton film dari tablet, segera saya bertaubat dan berbaur dengan nelayan untuk ngobrol-ngobrol.

Banyak biawak berkeliaran, yang akan menggangu aktifitasmu jika kamu agak penakut. Pengalaman saya, melewatkan sunrise dengan berenang karena sudah didahului oleh biawak menguasai pantai. Bawa tukang masak dan perlengkapan masak yang mumpuni jika kamu gak betah makan mie seharian.

Banyak nelayan yang tidak merokok, entah, saya tidak bisa mengeneralkan. Bahkan tidak ngopi item, mereka sukanya kopi saset. sekali lagi, entah, mungkin pas saya kesana ketemunya dengan para nelayan penikmat kopi ekstrak saset.

Demikian 4 hari yang saya lakukan di Pulau Biawak.