Berenang

Saya menyempatkan untuk berenang ketika libur off site. Kolam langganan dekat sekali dengan kantor lama, saya malas basa basi jika ketemu beberapa kawan kantor lama. Kolam renang tersebut buka saat jam masuk kantor.

Saya mencari alternatif lain, kolam renang tidak jauh dari rumah dan murah tentunya. Salah satu GOR yang sudah lama saya tahu punya fasilitias kolam renang namun baru awal tahun ini saya mencobanya. Standart kolam renang yang dikelola pemda. Terpantau ada fasilitias jogging track dan beberapa alat macam kita lihat di arena gym namun dengan tipe lebih sederhana.

bayar menggunakan kartu

Hanya saja saat itu masuk ke dalam kolam renang harus membayar menggunakan Jak Card milik Bank DKI. Sedikit ribet, top up menggunakan atm Bank DKI atau bisa di Alfamart. Kartu tersebut juga bisa digunakan untuk masuk beberapa fasilitas milik pemda DKI seperti masuk ke Ragunan atau OK Trip.

Advertisements

beruntung terjebak 2 jam

4 hari sebelumnya kami mendapat kabar jika rekan kerja terjebak 24 jam, dilokasi yang saya seperti dalam foto dibawah ini. Adalah jalur Manokwari – Teluk Bintuni sebuah jalur yang tidak mudah diprediksi. Perjalanan normal yang bisa menghabiskan 6 jam *syarat dan kententuan berlaku

Perjalanan dari Manokwari dimulai dengan cuaca yang cukup terik. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Hanya pada sebagian jalur ini saja yang masih tanah berlumpur. Sebagian besar jalur Manokwari – Teluk Bintuni sudah aspal hitam, sebagian kecil tumpukan kerikil dan sedikit banget ini yang masih lumpur.

Manokwari adalah Ibukota Provinsi Papua Barat.

Jalur distribusi yang hanya sepanggal ini menjadikan beberapa truk kewalahan melewati, menyebabkan banyak mobil double gardan lainnya mengular bahkan sampai 24 jam. Beruntung kami hanya tertahan 2 jam saja. Sempat terpikir untuk beli nasi bungkus untuk antisipasi namun urung.

Andai saja jalur sepanggal ini sudah baik, kemudian dibangun beberapa SPBU di antara jalur Manokwari -Bintuni, perekonomian beberapa daerah tidak akan berat di ongkos.


sesuai kebutuhan

Ada salah satu toko yang saya suka saat ini : ukuran untuk body saya ada dan harga murah. Lokasi dekat dengan exit toll alam sutra.

Sebelum saya berangkat kerja ke Papua, saya belanja beberapa pakaian dan beberapa gear yang sekiranya saya butuhkan untuk berkegiatan di Tanah Papua.

Lokasi pekerjaan pada daerah pesisir, rasanya pakian lari cocok untuk saya. Ringkes, tidak lama lepek dan cepet kering. Kemudian saya juga membeli beberapa celana untuk outdoor activity dengan spek yang beda tipis dengan pakian lari diatas : ringkes, tidak lama lepek dan cepet kering.

Beberapa celana jeans saya sudah saya bawa pulang dari Papua. Sebab, jeans tebal, jika basah lama kering dan bikin gembolan tas saya jadi berat dan besar. Setiap pergerakan saya minimal harus membawa Sleeping Bag, Rain Coat, GPS, Laptop, Headlamp, Jacket, Life Jaceket, beberapa buah batre, ATK, baju harian, beberapa cairan dalam botol penjaga kesehatan kulit tubuh dan beberapa baju resmi.

Jadi selain pakian olahraga di Toko yang dekat dengan exit toll alam sutra tersebut juga menjual beberapa kebutuhan untuk kegiatan alam bebas juga. Hal ini terjadi sebab saya beberapa kali salah ukuran atau salah bahan ketika belanja online.

Selain itu beberapa arena olahraga tersedia di toko ini, beberapa bocah riang gembira bekejaran di arena. Rasanya ingin segera menikahimu, kemudian mengajak anak-anak kita bermain disini, dik.

Dunia Laut

Rasanya terakhir main ke Dunia Laut adalah setelah setahun saya lulus kuliah, bisa jadi itu terjadi delapan tahun yang lalu.

Itupun karena seorang kawan mempunyai kartu diskon dari salah satu pameran kegiatan alam bawah laut di Jakarta. Itupun karena termakan gengsi karena saya sudah bekerja saat itu. Itupun karena kawan saya minta tolong ditemani karena kawan-saya-merasa-dikitili-seseorang-maka-butuh-kawan.

Maka, saya bersama adik-adik, keponakan dan ipar, bermain ke Dunia Laut. Sebenarnya untuk menyenangkan keponakan dan kebetulan kami punya waktu libur yang bersamaan. Permintaan saya hanya mau ketika hari kerja, weekday.

Kami memasuki Dunia Laut. Beberapa akuarium yang sebenarnya terang namun dalam ruangan remang-remang.

Keponakan awalnya takut masuk kedalam ruangan yang gelap. Beberapa ikan pada display awal yang kami lihat adalah ikan-ikan bertubuh bongsor. Lama kelamaan keponakan sudah muncul nyali dan mulai muter-muter bak komidi puter dan sesekali berteriak kegirangan.

Kami semua mulai masuk akuarium dengan rel berjalan. Kami takjub karena bisa kesini lagi, ke Dunia Laut. Rasanya dulu kami bisa menjejak kaki disini adalah bagian dari ritual akhir tahun sekolah. Bahkan saya lupa kapan pertama kali ke Dunia Laut. Sebuah kemewahan sehingga kami tidak pernah ketika kecil bersama ke sini.

Maka, di akuarium penyu, kami bertiga masih takjub dengan Dunia Laut.

kok segini doang ya? ternyata kecil ya?

Rasanya Dunia Laut itu besar sekali, dulu. Rasanya Dunia Laut lebih besar tiga kali daripada lapangan sepak bola. Adik saya berasumsi mungkin dulu kita masih kecil, jadi akuarium ini terasa sangat besar. Entahlah, Bener juga sik. Kemudian, kami hanya tertawa ringan saja. Merasakan keanehan bersama.

Menjelang sore. Energi kami dan keponakan masih banyak. Ide selanjutnya adalah mengunjungi Monumen Nasional. Namun, saya menolak sepihak. Saat itu Weekday dan menjelang jam pulang kantor. Jiwa saya belum bisa menerima kemacetan Ibubkota hahaha

Senja di Fakfak

Sebagai kota pelabuhan, maka sajian senja sore di tepi laut menjadi tontonan wajib di Fakfak. Relatif aman dan tidak terlalu ramai sore nongkrong di Fakfak.

Salah satu tempat wisata kuliner dan nongkrong adalah JALBAR atau Jalan Baru. Konon kawasan ini adalah reklamasi. Banyak warung tenda dengan lampu-lampu cantik dengan deburan ombak yang selow, menikmati gorengan dan kopi saset. Tanpa pengamen, ah.. sungguh damai. Gorengan disajikan dengan sambal untuk cocolan.

 

Dendeng Rusa Khas Minang di Fakfak dan cerita berburu

Saya ingat betul saban pulang kampung, Bapak dan Kawan Bapak juga Paman saya selalu bercerita tentang kegiatan mereka kala remaja, Berburu Rusa.  Cerita tentang Indonesia tahun 70an di sebuah kampung di belantara Bukit Barisan, Sumatera.

Beberapa anak muda dengan sepucuk bedil di pundak, sangkur di tangan dan membawa perbekalan untuk dua malam. Mengendap dalam malam, memburu seekor rusa, tidur di gubuk hutan, menanak nasi dan memasak lauk, tentunya bertualang.

Cerita bagaimana Bapak lihai dalam menembak, tentang bagaimana lezatnya daging rusa dan tentang bagaimana serunya keluar masuk hutan, mengendap didalam kepala kemudian menjadi layer-layer tumpukan memori selanjutnya sering terngiang.

Pamanku yang pandai bercerita, dengan rambut putihnya, tidak pernah kelelahan menceritakan cerita yang sudah ratusan kali ku dengan sejak aku balita. Sayangnya, setiap request daging rusa yang konon katanya adalah makanan raja-raja tersebut beliau selalu tertawa. Sebab saat itu, ketika aku sudah berani meminta kelezatan daging makanan para raja-raja tersebut, hewan itu sudah jarang ditemui. Semakin ke sini, semakin aku dewasa, cerita tersebut tetap selalu diceritakan, alasan selanjutnya adalah bertambah stamina usia pamanku yang pandai bercerita sudah sepuh.

Tidak ada kejujuran selain aku selalu suka cerita mereka, cerita Bapak dan teman Bapak juga Pamanku. Bagaimanapun aku selama itu tidak pernah juga melihat/merasa petualang mereka, semua itu selalu menjadi slide hitam putih yang selalu berputar di kepala.

Kemudia, Tuhan iseng. Fakfak yang jauh di Timur seberang kampung kami, saya bertemu dengan Dendeng daging rusa khas minang. Saya foto kemudian berserta cerita dibalik bagaimana saya bisa “memburu” daging makanan para raja-raja ini saya kirim ke Bapak, Kawan bapak dan Pamanku. Khusus Pamanku saya kirim ke Group keluarga. Dua hari kemudian, saya dapat cerita Pamanku terharu, mungkin sedikit menetes air matanya, konon dia senang saya yang sudah ratusan kali mendengarkan cerita bisa menikmati apa yang sudah beliau nikmati.

Daging rusa cukup banyak tersedia di Fakfak dan Bintuni. Beberapa makanan khas Minangkabau di dua kabupaten tersebut juga sering menjual dendeng daging rusa.

dua kali jumatan di jogja

Badan saya panas, tenggorakan sakit dan sendi-sendi sakit. Sudah 2 jumatan di Jogja, tidak banyak yang dapat disinggahi. Hujan tertib tiba sore hari. Selain ke Solo untuk begadang saling tukar cerita, hanya klaten sebagai tempat singgah sejenak untuk silaturahim dengan seorang kawan dokter residen.

weekend saya lalui dengan guling-guling menonton serial LOST di HOOQ.

Ngobrol atas ombak & gelombang

Panas bener siang itu, dalam perjalanan  longboat yang saya tumpangi dari Kokas menuju Fior, banyak saya temui longboat yang berduyun-duyun menuju Kokas (arah yang berlawan dengan saya). Beberapa penumpang longboat melambai tangan ketika kami berpapasan.

Kemudian Om Motoris melambat dan berbalik arah. Kedua longboat kami saling menempel, ternyata longboat yang ditumpangi oleh Bapak Kepala Desa dan Ketua Baperkam Fior. Kami saling bersalaman satu sama lain. Obrolan lebih banyak menggunakan bahasa lokal yang belum saya bisa saya mengerti, selain bahwa ada hajatan di Fakfak.

Salah satu tujuan saya ke Fior adalah bertemu dengan Bapak Kepala Desa dan Bapak Baperkam. Kemudian kami diskusi menentukan jadwal, belum putus musyawarah kami gelombang dan ombak turut hadir. Longboat kami bergoyang tak tentu arah, kemudian penumpang yang dominan ibu-ibu mulai gelisah. Panas terik matahari tidak kondisif, obrolan diatas perahu kami tunda dalam waktu yang tidak ditentukan.

Longboat kami saling berpisah berlawanan arah.

Sate Padang di Fakfak

letaknya di Jl. Isaak Telussa, Fakfak atau lebih dikenal dengan kompleks pertokoan. Cukup bilang “pertokoan” banyak masyarakat di fakfak paham dimana itu berada. Disinilah kamu bisa temukan dua rumah makan padang sekaligus.

Yang pertama seperti yang kamu lihat difoto postingan kali ini. Letaknya gak berdekatan dengan Bank Mandiri. Pemiliknya berasal dari Sulit Air. Selain menjual masakan padang, juga menjual kelontongan. Oktober 2018, kurang lebih diawal pekan, meka menjual sate padang juga. Namanya Sate Padang Da Zul.

Yang selanjutnya sekitar 100 meter atau bersebelahan dengan Masjid Raya ada rumah makan yang penjualnya berasal dari Batusangkar. Rumah Makan Padang ini hanya menjual nasi saja dengan bentuk rumah makan yang menanjak mengikuti bentuk kontur tanah.


Antara Manokwari dan Bintuni

Adalah salah satu, mungkin satu-satunya, moda transportasi yang menghubungkan antara Manokwari dengan Bintuni. Masyarakat di Bintuni lebih mengenal dengan istilah salah satu merk dagang “Hiluks”, SUV double gardan double cabin. Lama perjalanan normal “katanya” 6 jam dari Manokwari – Bintuni lebih sering meleset sampai 2-4 jam.

Pangkalan di Manokwari berada di Pasar Wosi sedangkan di Bintuni berada di Pelabuhan. Maksimal penumpang untuk satu kali pemberangkatan 4 orang, terkadang harus menunggu sampai penumpang maksimal baru driver mau jalan. Terkadang cukup 3 orang saja driver mau jalan. Tidak ada jadwal pasti berangkat, selama mobil penuh dan tercukupi biaya BBM maka driver meluncur. Hiluks tidak hanya menganggut penumpang kadang juga membawa barang, misal kepiting.