Mendengar

Seminggu yang lalu saya mulai untuk survey perdana SCTM 2018. Melenceng jauh dari jadwal yang sudah dibuat, karena kami harus menabung dahulu.

Tahun ini, kami lebih terstruktur daripada tahun lalu. Tahun ini kami lebih terdokumentasi, walaupun masih mencampur uang pribadi dan event (tidak ada uang event sampai tulisan ini saya tulis sik hahaha).

Masyarakat lebih percaya diri daripada tahun lalu dan lebih banyak yang ingin terlibat membantu.

Kemudian, seperti yang kita ketahui bersama. Tahun ini adalah tahun politik mungkin hingga tahun depan. Masyarakat terkotak oleh pilihan politik mereka. Diatas panggung-panggung politik masyarakat memang tidak bergoyang bersama, karena jadwal kampaye sudah diatur KPU.

Mencampur-aduk kepentingan politik dengan olahraga sungguh tidak bijak. Bisa ditertawakan pula kami oleh para pelari nantinya. Uang memang sangat membantu kami untuk bergerak. Kesempatan itu saya punya, mendapatkan uang dari kepentingan politik, namun kami tolak.

Jika kami ingin mencari uang, Sawahlunto bukanlah tempatnya. Sawahlunto untuk mencari uang cepat dari sebuah race event tentu masih jauuuuuuh.  Ini bukan sekedar masalah uang, namun kami berusaha mendapatkan uang dengan cara yang lebih elegant.

Kemudian, mendengarkan cara jitu. Masyarakat tentu punya harapan atas pilihan politik yang tersaji. Masyarakat menganalisa jangoan mereka dengan para rivalnya. Masyarakat kemudian membandingkan pilihannya dengan yang lain. Saya hanya bisa mendengarkan kemudian senyam-senyum, inikan Pesta Demokrasi!

Advertisements

Bule dan Semangat NKRI

Kita bisa sederhanakan istilah bule adalah orang non-indonesia.

Umumnya jika istilah bule itu disematkan kepada kaum kulit putih. Bagi sebagian bangsa Indonesia, bule tampak selalu memiliki posisi diatas daripada bangsanya sendiri. Bule selalu telihat lebih unggul apalagi ketika berada di Indonesia. Bule dielu-elukan sedangkan bangsanya sendiri (kadang) diremehkan.

Ke-bule-an seorang bule bagi masyarakat menjadi daya tarik tersendiri apalagi bule tersebut datang melancong ke sebuah daerah tertentu. Kedatangan bule ke daerah tersebut seakan-akan menjadi berkah dan tontonan hiburan tersendiri.

Jika menjadi sebuah hiburan masih wajar, karena bisa jadi masyarakat jarang melihat bule secara langsung. Namun jika sampai meng-elu-elu-kan bule tentu itu menjadi berlebihan. Ingat, sesuatu yang berlebihan tidak baik.

Kedatangan seorang bule secara pariwisata menjadi daya tarik tersendiri, bahwasanya bisa menjadi tanda jika daerah tersebut secara marketing sudah internasional. Untuk skala lokal, kedatangan bule menjadi bahan promosi dan kebanggaan. Lagi-lagi jika dalam kacamata pariwisata. Foto bule dipajang dalam brosur, diceritakan bahawa daerah tersebut pernah datang seorang bule.

Namun, jika berlebihan itu yang sangat disayangkan. Bule saya rasa posisinya sama seperti pelancong lokal lainnya. Ada yang kere ada yang tajir melintir.

Bule, kemungkinan dia kembali ke daerah tertentu mungkin mustahil jika si bule itu kere dan tidak mendapatkan keungungan apapun dengan kembali lagi. Yha, jika si bule tajir dan kerasan di daerah tertentu bisa jadi dia akan berulang datang.

Namun, jika kita service pelancong lokal dengan baik. Setidaknya dia akan merekomendasikan tempat tersebut ke kawan-kawannya. Minimal dia share di media sosial. Dampak lebih terasa jika kita menlayani dengan baik pelancong lokal.

Saya pernah dalam sebuah situasi perlombaan yang ada bule nya. Kemudian, seorang petingi kota dengan lantang berteriak : “hidup bla bla (menyebut negara asal bule)!!” selama beberapa kali.

Kejadian tersebut terdengar diantara peserta lomba yang sebagian besar adalah Indonesia dimana lokasi perlombaan di Indonesia. Si pejabat kemudian disoraki oleh sebagian besar peserta. Melalukan memang.

Saya tidak anti bule, sebuah kebanggaan kedatangan bule. Namun, kita tidak perlu terjebak oleh kerendahdirian atas kebulean itu. Bule kita manfaatkan sebagai sebuah stategi marketing dan tidak melupakan pelancong lokal.

Nonton Apa Kita? War Machine

War_Machine_(film)

Saya hanya penikmat film yang pengetahuan film bersadarkan ke-rahah-tamah-an para spoiler. Jika tidak ada akses informasi mana film bagus maka saya tidak tahu. Seperti juga film ini.

War Machine adalah keluaran Netflix. Dikutip dari kompasdotcom Netflix adalah layanan yang memungkinkan pengguna menonton tayangan kesukaan di mana pun, kapan pun, dan hampir lewat medium apa pun.

Film ini diadaptasi dari buku The Operators: The Wild and Terrifying Inside Story of America’s War in Afghanistan. Film yang rilis 26 Mei 2017 ini diperankan oleh Brad Pitt sebagai Jenderal Glen McMahon dengan plot perang Afganistan tahun 2009.

Adegan dimulai dengan narasi yang mengantarkan sebuah prolog dan menemani penonton untuk paham alur cerita. Masuk kepada pemeran utama, Jenderal Glenn yang baru kelar boker di bandara kemudian jalan dengan gagah menuju anak buahnya yang sudah menunggu. Beberapa point penting dalam cerita akan dibantu penjelasan oleh narator. Dari awal penonton sudah digiring bahwa ini film satir.

Saya bukan pengamat militer, namun jika liat tanda pangkat Jenderal Glen itu dengan 4 Bintang. Jika di Indonesia Jenderal dengan 4 Bintang adalah KASAD atau Panglima TNI. Entahlah jika di AS.

Ini film santai, sambil makan siang dan minum es teh tawar bisa menambah keasikan menonton War Machine.