Antara Manokwari dan Bintuni

Adalah salah satu, mungkin satu-satunya, moda transportasi yang menghubungkan antara Manokwari dengan Bintuni. Masyarakat di Bintuni lebih mengenal dengan istilah salah satu merk dagang “Hiluks”, SUV double gardan double cabin. Lama perjalanan normal “katanya” 6 jam dari Manokwari – Bintuni lebih sering meleset sampai 2-4 jam.

Pangkalan di Manokwari berada di Pasar Wosi sedangkan di Bintuni berada di Pelabuhan. Maksimal penumpang untuk satu kali pemberangkatan 4 orang, terkadang harus menunggu sampai penumpang maksimal baru driver mau jalan. Terkadang cukup 3 orang saja driver mau jalan. Tidak ada jadwal pasti berangkat, selama mobil penuh dan tercukupi biaya BBM maka driver meluncur. Hiluks tidak hanya menganggut penumpang kadang juga membawa barang, misal kepiting.

Advertisements

mati lampu hal yang biasa di Bintuni

Adalah hal yang biasa jika mati lampu mendadak sering tiba. Permasalahan yang paling menjengkelkan jika mati lampu tiba di malam hari.

Pertama, kamar kami adalah kamar yang di setting dengan sistem sirkulasi AC. Tidak ada jendela. Penginapan yang disulap menjadi kantor juga kamar untuk istirahat. Ketika mati lampu, menggunakan istilah bang iwan, rasanya seperti ayam potong di kandang yang padat penduduk. Pengap!

Kedua, akhir bulan adalah ketika semua deadline tiba dicampur dengan listrik mati mejadi kombinasi yang aduhai. Kadang kami meminjam listrik Ibu Pemilik Penginapan sekadar untuk mengisi daya semua alat elektronik.

Terkadang listrik mati juga mempengaruhi beberapa sistem perbankan di Bintuni. ATM ikut mati.

Podcast : ngobrol sore

keinginan saya untuk bercerita tentang apa yang kami alami cukup tinggi, hanya saja halangan-halangan yang timbul sebenernya dari diri sendiri. Kadang cerita yang berputar didalam kepala tidak mengalir deras ketika jari saya menyentuh tuts laptop. kemampuan saya dalam mengambil foto juga cukup biasa saja walaupun saya mencoba untuk mengunggah instagram komplit dengan caption yang informatif.

kemudian saya ingat podcast yang pernah saya buat, kemudian saya paham jika rekan kerja saya ini pandai bercerita dan cukup asik juga sok tahu – pengalaman beliau cukup banyak sik, jd wajar.

masalah yang timbul kemudian adalah mengatur ritme dan menjaga alur. obrolan yang saya rekam adalah obrolan santai disuatu sore disalah satu penginapan. Selamat menikmati.

kegiatan baru di perkerjaan baru

akhirnya saya punya tunjangan komunikasi. Lumayan. Pekerjaan saya yang sebelumnya saya hanya mendapat tunjangan komunikasi ketika libur lebaran itupun untuk tujan pekerjaan yang harus remote akses.

Bulan pertama tunjangan komunikasi dalam berupa pulsa cukup untuk beli paket kuota internet dan sms juga digunakan menelpon. Areal pekerjaan saya sering tidak terjamah oleh jaringan internet, kecuali di Fakfak yang real 4G. Pulsa banyak tersedot karena saya sering konsultasi via telpon.

Sebagai pengguna Telkomsel, setiap membeli salah satu paket internet mendapatkan fasilitas VideoMaxx. Tersadar jika kuota VideoMaxx saya lebih dari 20GB, saya cerita dengan rekan kerja saya. Lucunya dengan rekan kerja tersebut hanya menjadi sebagai ajang riya besar-besaran kuota VideoMaxx yang dimiliki alih-alih pernah memanfaatkan fasilitas itu.

Kemudian memberanikan diri mengunduh Apps HOOQ, film yang pertama saya tonton adalah Red Cobex. Pemilihan film tersebut murni random belaka. Akhirnya saya punya kegiatan baru dari pekerjaan baru. Ada rasa bahagia sebab ada fasilitas yang tidak mubazir. Kegiatan baru ini lanjut hingga saya di Ibu Kota yang jaringan internetnya cukup stabil.

Saya menyebutnya ini sebagai hak, mau terpakai atau tidak harus diambil. Ketika ternyata beberapa bulan terakhir ini saya berada didaerah yang tidak ada sinyal sama sekali dalam waktu yang cukup lama maka pulsa saya relatif utuh. Perjalanan pulang untuk offsite saya cukup kagum dengan capaian pulsa yang saya miliki. Cukuplah untuk makan martabak manis spesial tiap malam selama saya off site. Maka yang saya lakukan adalah membeli bebera ebook di Play Books. Saya pikir ini salah satu cara jitu memanfaatkan fasilitas sekaligus memberi asupan otak saya. Enteng pula karena semua tersimpan didalam gawai. Buku yang saya beli adalah buku-buku lama yang sudah diskonan. Saya baru sadar mereka adalah buku-buku yang dulu ingin saya beli namun tidak mampu.

Maka ini adalah kegiatan baru saya yang kedua, membeli buku dijital. Beberapa buku yang saya beli sudah selesai saya baca, bukunya soleh solihun. Saya masih terobsesi oleh SGA, buku-buku lamanya tersedia di Play Books dengan harga yang terjangkau antara 20ribu – 50ribuan.

Kegiatan baru pada pekerjaan baru saya ini adalah mengoleksi majalah pesawat yang ternyata saya baru tahu jika majalah di pesawat itu diperbolehkan dibawa pulang hahaha… Karena menurut saya keren sekali jika tulisan dan fotomu bisa masuk majalah di pesawat yang akan dibaca oleh ribuan orang. Sejak saya tahu majalah itu diperbolehkan dibawa pulang saya bawa untuk menikmati cerita-cerita petualangan para penulis.


Perkampungan diatas Rawa

Pagi yang sejuk menyelimuti kampung ini setelah diguyur hujan semalam. Pemukiman nelayan ini berdiri diatas kawasan rawa yang berada di kawasan mangrove Bintuni. Jika pasang laut tiba maka rumput akan tergenang oleh air laut dan jalanan dari papan yang tersusun akan seperti jembatan. Kampung ini memiliki mesin disel yang besar untuk mengaliri listrik ketika malam tiba. Namun mesin disel yang besar itu lebih sering ngadat/tidak berfungsi, alternatif untuk penerangan di rumah adalah menggunakan mesin disel kecil. Air hujan menjadi sumber untuk air minum masyarakat.

Sinole semacam tiwul dari sagu

Hari itu panas sekali, saya berjalanan menyusuri jalanan yang terbuat dari susunan papan, lebih tepatnya jembatan karena kami berjalan diatas tanah rawa di Kawasan Mangrove Bintuni. Kemudian saya masuk ke salah satu rumah tokoh masyarakat.

Salah satu budaya keakraban di masyarakat adalah berkumpul di dapur. Kami bicara tentang apa saja di sana. Kebetulan saya membawa tembakau dengan kertas rokok, salah satu bahan untuk ngobrol yang asik. Satu per satu anggota keluarga mencoba tembakau temanggung yang saya bawa.

Ibu sibuk di dapur, membuat olahan kuliner lokal yang khas yaitu Sinole.

Sagu yang dioseng dengan parutan kelapa. Sepintas bentuk dan rasanya mirip dengan tiwul. Hari itu saya makan sinole dengan ikan asin dan tersedia juga rica atau sambal. Sebuah kebahagian di siang yang panas bener.

Mangrove Bintuni dan Jaringan Sungai

Bagi yang mengeluti bidang lingkungan, mungkin tahu bagaimana keren Mangrove di wilayah Teluk Bintuni ini. Kawasan mangrove terluas di Asia Tenggara ini dibelah oleh banyak jaringan sungai, baik dengan sungai yang lebar sekali ataupun parit-parit.

Sungai di kawasan mangrove ini sangat dipengaruhi oleh pasang-surut. Sungai sebagai satu-satunya jaringan jalan yang menghubungkan beberapa kampung di Bintuni.

GSG Teluk Bintuni

Gedung Serba Guna Teluk Bintuni

Tepat di depan gedung tersebut ada lintasan lari, slaah satu spot yang cukup ramai di Kabupaten ini. Beberapa diantaranya latihan sepak bola, beberapa diantaranya sedang baris-berbaris dan juga ada yang jogging.

Lokasinya dikelilingi oleh hutan jika sudah masuk waktu magrib trus hanya berdiam diri disatu titik (tidak bergerak), bisa dipastikan nyamuk dan kawan-kawannya akan menjamah halus tubuhmu.

Pas dijalan mau masuk GSG di sebelah kiri, ada tukang gorengan andalan. Serius.

Papua Barat dan Naskun

Sebagai manusia yang menjunjung tinggi pentingnya sarapan, maka saya cukup berpengalaman dengan jajanan pagi ini. Terkadang di rumah tidak sempat masak sarapan, saya biasa beli nasi uduk dan kawan baiknya – gorengan.

Naskun (Nasi Kuning) istilah yang sering saya dapatkan di Bumi Pasundan menjadi salah satu menu sarapan saya ketika “jaman perang” dulu. Tentu Bubur Ayam adalah favorit utama saya.

Ketika menginjakan Papua Barat, saya sering melihat penjual nasi kuning di sudut-sudut kota pagi hari.

Bagaimana rasa naskun di Papua Barat?

Selama di Papua Barat yang pernah saya santap nasi kuningnya di Sorong, Teluk Bintuni, Manokwari dan Fakfak.

Rasanya lebih “berat” dibanding naskun Jawa atau Pasundan. Berasa banyak bumbu yang dicampur dalam naskun. Beberapa penjual nasku yang saya ajak ngobrol banyak mengaku jika keturunan dari Sulawesi atau Maluku. Bahkan diantaranya cerita bahwa nasi kuning banyak di Papua Barat dibawa dari leluhur mereka (Sulawesi).

Naskun disini  lauk dengan ikan itu sudah default menu, beberapa penjual memberikan pilihan : udang, ayam atau cumi.

Jika kamu rindu naskun yang light khas jawa di Teluk Bintuni, berada di tengah-tengah kawasan Mangorve Bintuni, saya pernah makan di Mama Joni, di Kp. Sasari Distrik Tomu. Lengkap dengan gorengan dan sambal kacang dan krupuk sagu.. emmhh

KMP LEMA (Sorong – Teluk Bintuni)

Kami salah informasi tentang jadwal kapal. Padahal itu perdana kami sampai menginjakan kaki di Sorong. Kami pun minta bantuan Pak Supir yang jemput ketika sampai bandara untuk pergi cek jadwal kapal Sorong – Teluk Bintuni.

Kami akhirnya mendapat kabar jika Kapal Motor Penumpang (KMP) Lema akan bertolak ke Teluk Bintuni hari Selasa, 7 Agustus, artinya esok hari, sedang sandar di Pelabuhan Usaha Mina Sorong. Segera menuju pelabuhan untuk membeli tiket dan booking tempat.

Bahwasanya semua tiket baru bisa dibeli tepat dihari keberangkatan kapal, go show. Namun, tempat istirahat lebih bijak jika di “booking” ranjang sehari sebelumnya. Metodenya bisa pakai tas yang tidak berisi barang berharga atau kantong keresek. Beberapa calon penumpang yang dalam satu perjalanan “booking” dengan cara ngeblok beberapa ranjang berdekatan dengan tali rapia.

KMP Lema tersedia kamar VIP dan Ekonomi.

Kelas ekonomi bentuknya seperti barak dengan ranjang  bertingkat 2. Terdapat dua buah kamar mandi di salah satu sisi kapal dan juga musola. Kurang lebih kelas VIP sama seperti kelas ekonomi hanya saja ruang tertutup menggunakan AC. VIP dengan jumlah ranjang terbatas.

Perjalanan yang hampir mengabiskan waktu 36 jam ini, kapal berhenti di Pelabuhan Babo untuk loading kemudian lanjut ke Pelabuhan Bintuni. KMP Lema cukup besar sehingga tidak terlalu terasa goyangan kapal. Ada cafetaria yang menjajakan makanan atau minuman untuk penumpang.