cerita dari survey lapangan kebakaran hutan dan lahan terbuka

Kebakaran hutan di Indonesia terjadi beberapa kali. Ingat ga kamu pada tahun 2015 bencana kebakaran hutan dan lahan terbuka (karhutlata) cukup besar dampaknya, kejadian tersebut menjadi cerita tersendiri bagi saya.

Saat bencana kebakaran hutan tahun 2015 itu, apabila kamu cukup  ke-kini-an maka tau jika di media sosial ramai dibicarakan. Beberapa orang mengecam kejadian tersebut dan beberapa lagi bahu-membahu menggalang bantuan.

Saya ingat salah satu delegasi UN-SPIDER asal Vietnam yang saya jemput di SHIA, pada awal tahun 2016, dia dengan lantang, sambil ngerokok, bilang jika kebakaran hutan di Indonesia bukan bagian dari bencana alam dan sangat mengecam.

Kok tahun 2016, tidak ramai berita karhutlata di Indonesia? tenggelam dengan gemuruh kontestasi Pilgub kah? Apakah tidak terjadi karhutlata tahun 2016?

Ijikan saya bercerita pengalaman survey lapangan kebakaran hutan dan lahan terbuka tahun 2016.

  • Manusia boleh berusaha, alam yang menentukan

Membesarnya dampak asap dari kebakaran hutan tahun 2015 disebabkan oleh faktor alam. Saya yakin jika para pemangku kepentingan sudah berusaha dengan maksimal dalam tangani karhutlata. Alam punya kuasa, tahun 2015 terjadi gejala alam El-nino sehingga menyebabkan terjadi kekeringan sehingga wilayah menjadi mudah terbakar. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk padamkan karhutlata baik dari udara maupun dari darat seakan-akan seperti liliput vesus raksasa naga jahat.

Data pemanfaatan satelit memperlihatkan beberapa titik panas, hotspot, yang bermunculan ketika terjadi karhutlata tahun 2015. Banyak sebab munculnya titik panas (hotspot), karena faktor alam atau bisa juga sengaja dibakar untuk kepentingan sendiri. Entahlah, saya tidak punya data untuk poin kedua.

lilipun versus raksana naga jahat yang bersekutu dengan pembakar lahan, amsyonglah ketika 2015.

El nino tidak mampir tahun 2016 ini, walaupun begitu banyak juga terjadi lahan terbakar jika kamu analisa dari citra satelit, sehingga tidak separah 2015.

  • Survey lapangan adalah saatnya kerja, jalan-jalan dan duit tambahan

Jika kamu pernah kerja di dunia penelitian indonesia plat merah, saatnya survey lapangan akan menjadi pegalaman yang nano-nano bagi setiap personil.

Bagi pengantin baru, survey lapangan adalah meninggalkan sebentar kekasih hatinya.

Bagi anak bujang, survey lapangan adalah saatnya traveling dan siapa tahu bertemu dengan jodohnya.

Bagi peneliti senior dengan anak 10 dirumah, survey adalah momentum mengisi amplop dana umum (uang sekolah, uang beli susu, beli popok dan kebutuhan lainnya).

Bagi anak gadis, dilema antara lumsum untuk beli lipen dengan kulit gosong belang-belang.

Bagi kami, para peneliti, survey ke lapangan, adalah saatnya untuk ground-check, implementasi keahlian dan menjalankan amanat undang-undang.

  • Data adalah segalannya, misal beruang tiba-tiba datang, MAKA ALAT JANGAN SAMPAI DITINGGAL

img_6021Mari kamu bayangkan sebuah lahan terbuka yang sudah terbakar, siang hari bolong dan sudah pasti sengatan matahari langsung diterima oleh kulit.

Kalo kamu liat foto disamping, maka mbaknya gak dipayung-in alih-alih malah laptopnya sebab data lebih penting daripada baju yang basah oleh keringat ataupun kulit gosong yang sebabkan belang-belang.

Dalam kondisi seperti terekam oleh foto ini, ketika ada mahluk Tuhan lainnya yang juga sedang bertahan hidup, misal, seperti beruang yang tiba-tiba muncul. SELAMATKAN ALAT TERLEBIH DAHULU.

  • Skill renang tingkat dasar atau ilmu meringankan tubuh diperlukan

Biasanya lahan yang terbakar itu adalah kawasan gambut, yang banyak kanal-kanal. Lokasi survey ada di sembarang kanal sehingga jembatan sangat diperlukan. Masalahnya jembatan kadang rusak (entah sengaja atau tidak), mau gak mau kamu harus membangun jembatan darurat.

Kamu tahu daerah yang kering karena panas yang gak umum, kayu-kayu sekitar sebagai bahan jembatan menjadi rapuh. Jika kamu berbadan besar, pelajarilah ilmu renang tingkat dasar atau pelajari dengan tekun ilmu meringankan tubuh. Kamu tahu dalamnya kanal di kawasan gambut berapa? bisa lebih 2 meter karena substrat/dasar kanal berlumpur.

  • Kawan yang taat adalah anugerah yang Tuhan agar hati kamu adem

Sebenernya dimana saja kita harus mengingat kuasa Tuhan. Kadang ketika kamu berada di tengah-tengah hutan yang terbakar dengan panas menyengat kulit, tanah yang membara, hati menjadi sedikit mendidih kemudian Tuhan kasih lihat anugerahnya. Tuhan kirim kawan yang membuat hati kamu adem.

kawan macam ini yang bikin hati adem.

A post shared by Tival Godoras (@tivalgodoras) on

  • Jika kamu tinggal di daerah rawan bencana karhutlata, sejak dini sudah dikenalkan tentang pemadaman api

Bahwa pemerintah ada dan hadir untuk rakyatnya.

yang bisa kamu nikmati selama trip ke Purwokerto

Jika kamu ingin solo trip, sekadar minggat sejenak dari jenuhnya Ibukota, coba pertimbangkan Purwokerto sebagai tujuan destinasi kamu. Banyak petualangan yang bisa kamu nikmati ke kota kelahiran mbak Mayangsari ini.

  • Nikmati sensasi KA Serayu
tipank_ka_serayu2
Kursi dengan formasi 2-3. Sudah dilengkapi dengan 5 AC tiap gerbongnya.

Kurang lebih 10 jam perjalanan akan kamu tempuh selama naik kereta api kelas ekonomi ini. Tenang saja, walaupun kelas ekonomi, PT KAI sudah memberikan fasilitas AC, gerbong yang bersih dan colokan listrik.

tipank_ka_serayu3
KA Serayu sudah dilingkapi dengan colokan listrik kemudian ada gantungan untuk kantung makanan.

Selama kamu dalam perjalanan, kamu bisa marathon film pilihan kamu. Jika gadget kamu mulai kekurangan batre maka tinggal colok saja. Isi gadget kamu dengan ebook, akan lebih nyaman daripada kamu banyak bawa buku karena akan sedikit merepotkan. Selama perjalanan kamu bisa mengisi dengan membaca buku.

Jarak tempuh sekitar 417 km, selama naik KA Serayu, bisa kamu manfaatkan ngobrol-ngobrol dengan kawan baru yang ditemui. Siapa tahu kamu ketemu dengan kawan ngobrol yang asik selama perjalananan, membicarakan album-album iwan fals atau tentang tektonika di Indonesia.

Kamu juga harus tahu, jika ada 15 stasiun yang dilalui oleh KA Serayu. Barangkat dari Stasiun Pasar Senen, menuju selatan dan kemudian berbelok setelah Stasiun Kroya. Biaya tiketnya tidak sampai 70 ribu rupiah. Sekadar saran, pilih tempat duduk angka genap, itu akan memberikan tempat dudukmu menghadap ke arah kereta melaju. Jika boleh memberikan saran, jangan ambil tempat duduk yang tengah.

tipank_ka_serayu
Rute Kereta Api Serayu
  • Museum Bank Rakyat Indonesia

Mari sejenak kamu pisahkan list Batu Raden dengan Purwokerto, walaupun aksesnya tidak terlalu jauh, namun 9 jam di Purwokerto kita maksimalkan city trip. Jika kamu naik KA Serayu malam, maka kereta tiba pukul 8 pagi di Stasiun Purwokerto.

Maksimalkan kaki kamu dalam perjalanan ini. Ketika sesampainya di stasiun, mari cuci muka agar tubuh segar. Keluar dari stasiun, ambil jalan ke kanan, menuju Jl. Jenderal Gatot Subroto, kemudian ke kiri menyusuri jalan tersebut. 10 menit kamu akan bertemu lampu merah, jika lurus kamu menuju alun-alun kota dan ke kiri adalah Jl. Wiraatmaja (dikenal dengan Jalan Bank).

A post shared by Tival Godoras (@tivalgodoras) on

Istirahatkan kaki kamu sejanak dan masuk kedalam Museum BRI. Takjub gak sih kamu jika BRI salah satu BUMN tersohor (dengan nilai aset yang mantab punya) pertama kali pada 16 Desember 1895 di Purwokerto. Perintis BRI adalah seorang priyayi Raden Aria Wirja Atmadja. Masuk kedalam museum ini maka kita akan belajar tentang sejarah BRI. Nama lain dari museum ini adalah museum uang, karena kita dapat belajar juga tentang koleksi uang yang pernah berlaku di Indonesia.

Jangan datang hari senin ke museum ini, sebab museum tutup.

  • Jalan Bank adalah Jalan Wirya Atmaja

Tidak perlu khawatir jika perut kamu mulai meronta, selepas puas menikmati Museum BRI cukup jalan kaki menyusuri jalan bank atau Jl. Wirya Atmaja kamu bisa menemukan salah satu kedai soto tenar di Purwokerto. Paling dekat dengan museum ada Soto Haji Loso dengan 2 kedai yang saling bersebrangan.

Jika kamu mau jalan kaki sedikit di Jl. Wirya Atmaja menjauh dari museum uang, kamu juga bisa menikmati soto Pak Sungeb.

Soto Purwokerto konon adalah masih satu turunan soto sokaraja, ini khas dengan sajian yang warna-warni, suwiran ayam kampung dengan bumbu kacang, rasanya segar, gurih dan enak.

  • Simpangan Sawangan (Jl. Jenderal Sutoyo)

Jika kamu pernah ke Semarang, Ibu kota Jawa tengah, pusat oleh-oleh dikenal dengan Jl. Pandanaran. Pusat oleh-oleh Purwokerto adalah Jalan Sawangan atau Jl. Jenderal Sutoyo. Kelar menikmati soto di jalan bank, kamu hanya perlu melangkahkan kaki menuju Jl. Jenderal Gatot Subroto lagi, kemudian belok kiri. Jalan kaki sedikit maka kamu menemukan persimpangan Sawangan, kamu ke kanan.

Apa yang khas?

Getuk goreng, mendoan yang sudah menjadi legenda Purwokerto, nopia dan mino dapat kamu temukan disini, di Jalan Sawangan.

  • Alun-alun kota Puwokerto

Tempat kawula muda berkumpul ya di alun-alun, sekedar nongkrong-nongkrong. Saya suka mencuri dengar. Menyimak khitmad logat dan dialek yang berbeda dengan bahasa ibu saya. Sungguh suasana dan suara yang disajikan oleh Purwokerto cukup melupakan rutinitas di Ibu kota. Dekat alun-alun Purwokerto ada Masjid Raya.

  • Bakso Pekih

tipank_pekih_pwt

Ketika siang sudah sampai dan matahari sedikit bergeser dari pusat ubun-ubun kepala, Bakso Pekih yang tak jauh dari alun-alun. Kita bisa menikmati bakso.. iya bakso hehe

Selain menu per-bakso-an juga disediakan es krim brasil yang harus kamu coba. Sebelum kamu pulang, naik kereta lagi, naik KA Serayu lagi, dari Purwokerto jam 16.30 sampai Pasar Senen jam 4.30, disekitar stasiun Purwoketo juga banyak warung tenda dengan rasa dan harga yang kompetitif.

***

Begitulah 9 jam kabur dari Ibukota yang bisa kamu jajal sendiri. Terimakasih. Ohya, untuk kamu yang berkaki panjang, KA Serayu akan sedikit menyiksa kamu karena sempit sekali.

Semarang, 22 Desember

Semarang, 22 Desember 2007

Jika engkau melihat langit sore dari sini -tempatku berada- maka saksikanlah ketika Tuhan menyajikan senja yang kemerahan memenuhi seluruh jendala kamarku. Jika engkau sedang berada disampingku ketika ini maka saksikanlah seorang calon sarjana yang merindu sangat dalam.

Apa kabarmu? Harap dan doaku agar engkau selalu dalam keadaan yang sehat juga dalam perlindungan Allah.

Kutulis surat ini agar engkau dapat mengetahui kabarku. Harus kuputar otak mencari cara bagaimana engkau mendapat kabar tentang diriku, sejak pak pos secara sepihak mengundurkan diri dari pekerjaannya. Mengejar passion, begitu jawab pak pos ketika kutanya alasan keluar dari pekerjaannya.

Kemudian kubuatkan sebuah blog tentang sebuah surat yang seharusnya kau terima bersama amplop yang membungkusnya. Lagi-lagi apadaya dan upaya, kabar harus kusampaikan namun pak pos harus mengejar passion.

Semalam hujan di Semarang. Kau masih ingat bau hujan pertama yang membasahi kota ini -ketika itu, kita bertemu untuk pertamakalinya? Aku memakai kemeja Ayahku dengan sepatu yang agak kebesaran. Enggkau em.. aku lupa jenis pakaian yang kau kenakan, tapi sangat kuingat warna merah sangat serasi dan anggun kau pakai.

Bagaimana kabar jam dinding kamar mandimu? Masihkah dia berdetak? Bagaimana kabar ikan mas kokimu? Pasti ikanmu masih makan sangat banyak to?

Ah, kuliahku baik-baik saja. Janganlah kau cemas, memang beberapa kali kawan-kawanku mengajak naik gunung tapi setelah semua tugas-tugas kuliah selesai kugarap. Kulitku menghitam hehehe… terik matahari dan terpaan angin laut tak bisa kulawan. Jangalah lagi kau kirimkan aku krim tabir surya lagi, habis aku ditertawakan oleh kawan disini 😀

Aku rindu. Semoga kau maklum.

Jika kau rindu denganku, datanglah kesini. Jika pak pos yang mengejar passion itu sudah mendapatkan penggantinya, pasti aku akan dikabarinya. Ketika itu juga akan kukirimkan engkau surat yang kutulis dengan tanganku sendiri lengkap dengan amplop dan perangko.

Ijinkan untuk pamit. Bapak kos memanggilku.

Salam Sayang.

Jajan : Cafe Halaman Mie Ayam Oke

Karena tiba-tiba saya mendapatkan pesan instan dari smartphone saya. Isinya kurang lebih, rekan kerja saya bertemu dosen pembimbing saya pada sebuah acara seminar ilmiah di Manila. Pimbicaraan tentang kuliah saya, masalah administrasi dan WISUDA. Kadang saya tidak suka ada orang yang terlibat urusan tentang saya.

Ah, kenapa pula ibu dosen pembimbing saya ini bisa ketemu satu ruangan dengan rekan kerja saya ini? di MANILA!

Melarikan diri.

Lebih tepatnya menenangkan diri. Pulang kantor teng-go! Saya muter-muter Depok. Rencana sore itu mau beli sepatu lari, sebab sepatu lari saya sudah rusak. Rencana tinggal rencana sebab rusak oleh mood: Let’s get lost! aja dech yach…

Pengendara motor mungkin paham jika jalanan di Depok ada banyak (sekali) jalan tikus. Mungkin tidak akan habis dalam 3 Purnama khatam seluruh jalan tikus di Kota Depok. Maka, masuk-keluar jalan tikus di Depok dapat menjadi semacam hiburan dan liburan bagi saya. Lebih tepatnya nyasar cukup menjadi hiburan buat saya. Nyasar dalam artian jalan-jalan tanpa arah dan tujuan #tsah

Sampailah saya di Jalan Tanah Baru, Beji, Depok. Jalan yang relatif tidak besar dengan batas sungai kecil dan banyak toko di sisi bersebrangannya. Tepat pada Jalan Raya Tanah Baru No. 21 saya melihat tanda toko “Cafe Halaman Mie Ayam Oke” dengan bentuk gerbang tradisional dan bagunan yang sekilas terlihat banyak pohon dan pot bunga.

Sembari menunggu azan magrib, bolehlah mampir untuk ngopi secangkir. — pikirku sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam cafe tersebut.

Pemandangan pertama ketika memasuki cafe ini, lahan parkir yang minimalis. Untuk parkir motor bisa muat banyak namun tidak dengan mobil. Saat itu ada 2 mobil yang parkir sudah penuh sesak lahan parkir dibuatnya. Kemudian sempat saya dibuat bingung untuk order dan memilih tempat karena ada banyak bangunan yang saya pikir itu adalah rumah pribadi pemilik kafe. Ternyata ada ruangan outdoor di belakang ketika kita melewati kasir. Bangunan berkonsep tradisional, banyak lampu gantung dan dikelilingi hijau tetumbuhan yang terawat. Juga tersedia bangunan saung-saungan.

Saya memilih untuk menikmati di ruang utama, dengan meja dan kursi dominasi warna cokelat, lampu gantung, dekat kolam ikan dan lebih terbuka. Saung-saungan itu saya rasa cocok bagi pasangan yang sedang terbakar asmara, lebih privasi dan terletak disudut-sudut temaram. Terdapat ayunan dan perosotan disekitar saung-saungan. Atap yang dibuat dari daun-daun kelapa kering bikin suasana yang nyaman.

Cafe ini menjual suasana. Harga makanan relatif standar, beberapa naskah tulisan yang saya temukan di internet banyak mengatakan harga makanan disini sedikit mahal dibanding warung-warung lain disekitar. Ragam minuman kopi instan saset diperjualbelikan di cafe ini.

Pisang Goreng Coklat Keju yang saya pesan enak. Suasana makin asik jika turun hujan dan bersama kamu, kita, menyesap kopi sambil membangun mimpi bersama.

16523

Selesai.

Pengalaman menulis saya ketika surat dari nenek tiba. Dengan tulisan tangan yang khas, tulisan sambung. Nenek memberi kabar tentang hasil kebun, sawah yang sudah menguning dan tentu saja kabar beliau. Tak lupa nenek menanyakan kabar saya dan kami sekeluarga.

Ibu memaksaku untuk membalas surat nenek, ketika itu saya baru saya mengenal huruf latin. Menulis dengan sangat berdebar-debar, saya merasakan adrenalin ketika itu, maklum masih bocah. Ketika membalas surat yang kesekian, saya dilarang memberikan gambar pada surat saya, padahal saya ingin juga pamer pada nenek jika saya juga bisa menggambar. Bukan hanya menulis.

Pengghujung sekolah dasar, pecah demo reformasi. Otomatis kami, saya dan nenek tidak lagi berkirim surat. Kondisi tidak baik ketika itu, Bapak hijrah ke Saudi, mencari rejeki yang cukup bagi kami. Saya masuk sekolah menengah pertama ketika Bapak kerja di Saudi. Hilang sudah kebiasaan menulis surat saya.

Saya menulis kembali ketika media sosial merebak, menulis pada fitur notes.

Saya bersyukur dapat kesempat kembali berbalas surat, bukan kepada Nenek. Adrenalin menulis surat sama ketika saya harus membunuh lelah ketika mendaki gunung. Saya mendaki gunung lebih sering bersama kawan jaya. Senang Sedih akan saya share kepada beliau. Walau ada yang berbeda ketiaka saya berbalas surat, saya tidak bisa mengontrol emosi saya, kadang saya menulis dengan tangan kiri, menulis kata-kata absurt. Sebenarnya, berabsurtria adalah terapi saya mengelola emosi. Apa yang bat saya bersyukur? Tulisan-tulisan pada surat saya yan absurt selalu dibalas dengan doa, kalimat baik dan asa.

Saya pernah dicerikan oleh kawan bahwasanya adik kelas saya suka membaca tulisan saya namun dia tak pernah paham dengan apa yang saya tulis. hahaha

Kebanyakan tulisan saya adalah tulisan sekali jadi, langsung publish. Apa yang ada diotak ketika itu saya tulis.

Mendapat kabar itu yang selalu saya tunggu dengan berbalas surat. Ah, saya rindu hal tersebut. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mendapat kabar dari kawan. Ketika kamu menuliskan tulisan tanganmu di secarik kertas, kadang saya bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan ketika menulisnya. Walau saya tidak jago membalasnya dengan rapih.

Bukankah ketika kamu bukan kidal namun kamu menulis dengan tangan kiri adalah sebuah kekhususan tersendiri?

Saya tahu kamu bagus dalam menulis, ketika itu saya mengajak untuk berblogria. Penolakan yang didapat saya impulsif. Walau keder juga harus pakai platform yang mana. Paling mudah di blogspot, isinya acak akadut. Setidaknya memberi contoh dulu. WordPress ini juga bentuk impulsif saya, ketika tahu kamu berblogria. Pasti alasannya bukan karena saya atau contoh saya, pasti adik atau siapalah yang memotivasi. Saya bukan mario teguh yang sekarang heboh itu, memang. hehhe…

Sepeti judul postingan ini, saya men-selesai-kan blog ini. Tulisan kamu bagus, rapih, dan banyak hal yang bisa diceritakan. Lebih baik tentunya sekarang, dulu susah nyampah.

Saya tentu akan selalu menulis tapi tidak dengan tpnkblog ini.

Dudu.

Cerita tentang Arya

Namanya Arya. Doa kedua orangtua dikabulkan atas nama tersebut pada semangat Arya. Tubuhnya tidaklah besar bahkan lebih kecil daripada ukuran rata-rata lelaki Indonesia.

Arya merajah sebagian tubuhnya yang dengan sengaja pada bagian tubuh tertutup pleh pakaian, bahu dan dadanya.

Setiap pagi Arya rutin meminum susu dan roti gamblang (beberapa daerah menyebutnya roti ganjel rel), ditemani oleh 2 batang rokok kretek. Tanpa siaran berita pagi, Arya memilih mendengarkan radio pada gelombang kesayangannya.

Menceritakan kegemaran Arya pada frekwensi kesayangan ini maka izinkan saya memutar mesin waktu ke dua atau tiga tahun yang lampau. Saat arya masih menjadi pecandu kafeein bukan laktasi.

Kopi kesayangan Arya adalah kopi saset Mpok Minah. Berjualan sarapan pagi dan penampung ceritra masyarakat sekitar. Mpok Minah senang mendengarkan cerita orang-orang, bisa sebagai strategi berjualan Mpok Minah atau seperti itulah Mpok Minah adanya.

Sebagai pendengar pendengar kawakan Mpok Minah memiliki keahlian dalam urusan administrasi. Semua cerita akan dibagi kedalam tema-tema tertentu. Kemudian dipilah berdasarkan Judul tertentu. Pembagian juga berdasarkan Waktu tertentu. Rak file cerita Mpok Minah lebih besar daripada lapak dagangan beliau.

Pada suatu pagi Arya memesan kopi. Tentu hanya dengan menguccapkan, ‘kopi satu,mpok’, maka mpok minah sudah tau racikan kopi saset untuk pelanggannya itu.

Sembari memberikan pesanan sang pelanggan, mpok minah sedang mempelajari file cerita dari Pak Kohar. Yap, si Mpok kadang membaca ulang cerita-cerita yang lama. Tersebutlah cerita tentang Bang Ipul, seseorang yang sering muncul di televisi, lelaki dengan spirit berdendang yang tinggi.

‘lu gak bakal bisa bedain mane die nyanyik mane die melagu, Bang Ipul ni manusie orkes’ begitulah Mpok Minah cerita tentang Bang Ipul kepada Arya. Tentu saja dengan cerita-cerita yang lainnya. Mungkin Arya sedang bengong saat itu sehingga seketika dia mengidolakan Bang Ipul. Bahkan sampai belajar olah vokal kepada Mbak Bertha.

Singkat cerita, dunia dangdut merajalela, Bang Ipul tersangkut masalah. Kamu tahu lah masalah apa itu. Sebenernya dunia biasa-biasa saja. Arya shock berat, sempat frustrasi, merasa Bang Ipul mengkhianati cita-citanya. Padahal muncul fenomena baru, Mbak DJ Kupu-Kupu itu. Disaat hancur hati Arya, kenal dengan Mbak Eli Sugigi dan mengajaknya ke acara Dasyat. Juga Pesbukers, liat Mbak DJ Kupu-kupu. Lumayan.

Artis Dasyat banyak yang bertato, sial Arya terpengaruh. Merajah sebagian badannya namun di bagian tubuh yang tertutup. Arya mau daftar jadi PNS katanya. Inspirasi tato Arya adalah gambar tembok rumah kakaknya. Artis gambar tembok rumah kakaknya adalah bocah umur tiga tahun. Arya melihat lukisan dinding itu sebagai sebuah karya seni yang murni nan jujur. Sembari mengobati luka oleh sang idola perlahan namun pasti, Arya, Pemuda kekinian yang merajah tubuh dengan gambar bebek, angka 1 sampai 0 dan garis-garis yang tidak jelas (sekilas mirip dengan tatto tribal orang nge-gele) tidak meminum kopi namun minum susu.

Perjalanan pulang ke kosan, Arya sempat menonton adengan di sebuah videotron, seorang lelaki macho brewokan naik kuda nyangking gitar. Yap, Bang Haji sedang memberikan ceramah politik tentang tidak lolosnya Partai Idaman. Meminta para kadernya legowo jika partainya tidak lolos verifikasi mendapatkan status badan hukum dan menghormati keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sunguh sebuah sikap yang sangat kesatria skali, apalagi dengan kharisma brewok Bang Haji yang unyu. Apalagi ceramah politik tersebut ditutup dengan beberapa tembang Orkes Melayu Soneta yang pernah hits!

Begitulah. Arya anak kekinian dengan tatto ditubuh doyan mimik susu dan Hormat kepada Bang Haji. Benci Bang Ipul.

~Bu Joko mampir ke Puskesmas, banyak Paspampres. Begitulah. Udah dulu yak!

Nonton Film

Ketertarikan saya dengan film dimulai ketika akhir masa sekolah menengah atas. Membaca liputan khusus di harian Kompas tentang sebuah festival film, JIFFEST. Yap, saya menikmati film dari membaca resensi/opini orang. Kesempatan dan keinginan saya untuk menonton film tidak terlalu tinggi.

Setelah membaca di Kompas tentang le Grand Voyage dan Taeguki, terbersih ketika itu dalam benak, “gue harus bisa nonton ini”. Harus bisa, entah kapan, tapi saya harus nonton kedua film tersebut. Keraguan saya bisa nonton segera karena saya saat itu sedang tinggal di Sukabumi. Jauh rasanya bisa hadir sesuai jadwal penanyangan di Jakarta.

Setahun setelah itu saya pindah ke Semarang, di kampus sastra ternyata ada roadshow film2 Jiffest. Taeguki dan le Grand Voyage ditayangkan. Tentunya gratis. Kesempatan tersebut pertama kalinya saya dengan kesadaran sendiri mau nonton film.

Pengalaman menikmati film dari membaca di surat kabar, yang jauh dari spoiler dan banyak analisa-analisa tentang alur cerita, setting, makna yang ingin disampaikan sutradara ataupun kemampuan akting para artis cukup mempengaruhi saya. Saya pikir begitulah menikmati film –menganalisis dan mendiskusikannya. Beberapa kawan anggap saya terlalu ribet saya hahaha.. film itu ya dinikmati, seperti ketika kamu yang penakut tapi suka film horor. Cukup menikmati adrenalin dikagetkan oleh adegan, tata suara, efek visual dan adegan di bangku bioskop.

Dulu saya tidak suka dengan film korea, yang secara membabi-buta tanpa saya coba menuduh film atau drama korea adalah film menye-menye yang alay. Oke saya salah, saya cukup menikmati ketika menonton Oh My Gosh. Juga saya lupa bahwa Taegukgi adalah film korea yang yahud.

Genre animasi menurut saya lebih rileks, cukup ditonton di bangku bioskop kemudian tertawa dan pulang. Gak perlu didiskusikan.

Selamat berhari pekan.