21K

Sejak 2013, sebab patah hati dan berniat kembali ke bangku sekolah, saya memulai ritual olahraga berlari. Sebagai pelari komplek, istikomah adalah musuh terbesar saya.

Sepengalaman saya jarak paling jauh berlari adalah 17K, ketika Garuda Finisher dengan segala sumpah dan serapah menemani saya berlari. Kebetulan saya ditemani dengan seorang kawan yang doyan grundel. Istimewa.

medal jaya #idr2014

Sebuah kiriman dibagikan oleh Tival Godoras (@tivalgodoras) pada

Sebagai pelari komplek pun saya berpegang teguh dengan lomba-lomba gratis. Untuk satu hal ini saya cukup konsisten.

Kemudian saya mencoba trail running di Cirebon tahun 2016, dengan bayar seikhlasnya. Alhamdulillah, Finish 10K Trail Running perdana.

#CiremaiTrailRun #Cirebon #trailrunning #SlankyLecet #OjoKendor #trail #CirebonRunners #Core

Sebuah kiriman dibagikan oleh Tival Godoras (@tivalgodoras) pada

KRB200

Maka, setelah 4 tahun semenjak berlari saya memulai dengan lomba berbayar. KRB200 adalah pengalaman perdana saya ikut lomba lari berbayar dan lonng run.

Persiapan saya cukup mutakhir, kebetulan semesta mendukung. Beberapa kesempatan saya dapat dinas luar kota selama 5 hari, menuntut saya harus snorkling setiap hari. Saya juga sempat hiking selama beberapa hari. Mengurangi rokok. Saya juga intens latihan.

KRB200 untuk saat ini adalah yang terbaik buat saya. Aing bisa finish tanpa pengsan!

#krb200 #tabahsampaiakhir #jangankasihkolor #finishstrong

Sebuah kiriman dibagikan oleh Tival Godoras (@tivalgodoras) pada

Akhiru kalam, sebagai bentuk riya karena telah menyelesaikan 21K video ini saya buatkan. Hah haha haha…

Etape Pertama

Cerita ini adalah perjalanan setahun sejak kemunculan ide. Pada perjalanan awal, saya hanya berjalan santai, berkomunikasi dengan beberapa orang dan saling berdiskusi.

Mudah atau sulitnya perjalanan tentu relatif, untuk saat ini perjalanan saat ini yang terasa cukup berat.

Setahun belakangan saya berinteraksi dengan sebuah kota, cukup jauh dari tempat saya menulis cerita ini. Masih di Indonesia walaupun kami sering miskomunikasi sebab perbedaan gaya berbicara.

Apa yang saya rasa adalah sebuah persaudaraan dan cita-cita untuk bergerak maju bersama. Sejauh yang saya rasakan, masyarakat lokal sangat antusias dengan ide-ide yang saya gelontorkan dengan gaya penyampaian yang sangat jakartans. Saya bukan ahli marketing atau sesorang paham/tertib tata cara etika public speaking.

Beruntung saya berkesempatan bertemu dengan orang-orang yang di-tokoh-kan oleh masyarakat, orang-orang yang penuh asam garam meladeni masyarakat setempat.

Saya berkesempatan berbicara dengan pendekar kampung, seorang guru silat. Usia sepuh yang powerfull ketika berbicara dan semua cerita tentang masalah (apapun masalahnya) ditanggapi dengan tertawa terbahak-bahak. Pesan kepada saya, jika ada yang macam-macam kepada saya, pertahanan pertama adalah sebut namanya beliau. Tipikal pendekar!

Sayapun sempat menemui seorang khatib surau, yang lebih banyak mendengarkan dan santun merespon. Pertemuan-pertemuan selanjutnya di surau setelah magrib hingga isya. Selama berbicara dengan beliau, senyuman yang tak pernah putus. Doa yang selalu diingatkan kepada saya.

Ada juga Pak Kadus (Kepala Dusun), sejak saya pertama merealisasikan ide, pak dusun ini yang selalu menemani dan antar jemput saya. Pak kadus adalah mitra terdekat saya. Sangat dekat. Beberapa kali saya dapat bertemu dengan masyarakat lokal atas jasa pak kadus.

Perjalanan ide ini adalah sebuah perjalanan proses. Saya merasakan dan melihat sebuah daya yang sangat positif di daerah. Semangat gotong royong dan aktifitas nyata dari gotong royong itu masih ada. Walaupun, beberapa orang dengan kemampuan mencabik-cabik semangat warga kampung masih ada sebiji-dua biji.

Apakah di desamu ada orang yang energinya selalu negatif? tukang merendahkan semangat orang? orang-orang yang dengan sadar menjatuhkan mental orang lain?

Beruntungnya, saya masih menemukan beberapa tokoh yang masih mau menjadi tukang jahit atas perbuatan para pencabik.

Jika ternyata saya memiliki sebuah perjalanan proses lainnya itu cerita lain, tapi masih sejalan tidak akan menerkam satu sama lain. Aamiin. Saya belum bisa bercerita banyak selain terimakasih. Terimakasih mau membaca.

Dalam cerita ini, saya masih di perjalanan etape pertama. Saya yakin banyak cerita seru selanjutnya.

ke Pekalongan, Banjir Rob

Sebagai ‘veteran’ Semarang, saya sedikit kaget dengan isu banjir rob Pekalongan yang sudah menahun melanda. Sebab, yang saya tahu, Semarang langganan banjir Rob. Singkat cerita, dibuat sebuah tim, termasuk saya, yang jujur hanya sebagai pengembira.

Tujuan pertama adalah Kantor Kabupaten Pekalongan yang dilanjutkan melihat kondisi yang terdampak banjir rob. Kemudian lanjut ke Kantor Kota Pekalongan. Tentu kita tidak bisa melihat fenomena banjir sebagai masalah administratif saja namun harus konprehensif.

Saya tidak akan banyak cerita tentang pekerjaan saya di Pekalongan.

tivalgodoras_pekalongan_1

Foto diatas itu rumah masih berpenghuni. Kenapa rumah sangat pendek karena dampak dari banjir rob, pondasi rumah ditambah sedangkan atapnya tetap. Saya ingat sebuah rumah kawan di Semarang yang berdiri di daerah terdampak banjir rob. Bahkan, mungkin, karena tidak punya biaya beberapa rumah saya lihat menggunakan perahu dari drum untuk alat masuk kedalam rumah, seperti foto dibawah ini.

tivalgodoras_pekalongan_2

Beberapa sarana publik seperti kantor desa, pasar bahkan sekolah juga sudah terdampak banjir rob. Permasalahan yang timbul dari banjir rob ini adalah tentunya kesehatan, tanah yang tidak produktif dan harga tanah yang rendah. Bahkan di daerah yang terdampak banjir rob tidak dikenakan pajak oleh pemerintah setempat.

Rob adalah kata yang diambil dari bahasa jawa. Secara umum, banjir rob adalah banjir yang disebabkan oleh naiknya permukaan air laut.

tivalgodoras_pekalongan_4

Beberapa tambak mengunakan jaring sebagai pembatas kepemilikan tambak. Tentunya bendung banjir rob bukan salah satu cara jitu, walaupun ada ribuan cara menanggulangi banjir rob. Semoga daerah terdampak rob segera bisa terselesaikan masalahnya.

tivalgodoras_pekalongan_3

4 hari di Pulau Biawak, Indramayu

Sejatinya bernama Pulau Rakit. Berlokasi di utara Kabupaten Inderamayu, Jawa Barat ini juga dikenal dengan Pulau Biawak. Jika kamu menggunakan perahu nelayan dari Indramayu akan memakan perjalanan sekitar 4 jam.

Bisik-bisik tetangga kamu bisa menuju Pulau Biawak melalui Cirebon menggunakan speedboad dengan kemampuan tempuh 1 – 1,5 jam.

Pulau dengan luas sekitar 120 hektar ini banyak dijumpai banyak biawak (Varanus salvator), sumpah banyak banget. Selain ikan, selama disini kamu akan sering berjumpa dengan biawak baik di darat maupun di laut.

Maka ijinkan saya untuk bercerita pengalaman 4 hari di Pulau Biawak.

Hari 1 – Pasang Surut Laut

Koordinasi yang matang dengan pemilik jasa perahu untuk menuju Pulau Biawak adalah keniscayaan. Keluar-Masuk perahu sangat dipengaruhi oleh jadwal pasang-surut baik di Indramayu (Pulau Jawa) maupun ketika di Pulau Biawak.

Perahu bisa bergerak ketika air pasang, tentu ketika surut perahu akan kandas. Saya memulai perjalanan ke Pulau Biawak dari Indramayu, pas shubuh dengan sedikit terburu-buru karena berangsur air surut.

IMG_8605

Sekitar 1 jam, perahu akan menyusuri sungai menuju Laut Jawa, pemandangan sekitar adalah hutan Mangrove. Selama menyusuri sungai, kamu masih bisa mendapatkan kuota internet.

15 menit masuk Laut Jawa, fungsi dasar hape mu sudah hilang. Airplane mode on. Kecuali MP3 Player, Video Player dan Kamera yang masih bisa kamu manfaatkan. Mending dipakai untuk tidur atau ngobrol dengan nelayan.

Pulau biawak, sebuah pulau yang dibentengi dengan terumbu karang untuk dapat masuk ke dermaga juga dipengaruhi pasang-surut air laut.

Kamu akan disambut oleh sebuah mercusuar yang kokoh dan dermaga yang letoi. Sila baca caption foto diatas.

Disambut biawak di Pulau Biawak

Pulau ini menyediakan beberapa kamar yang dikelola oleh dinas perhubungan, penjaga mercusuar ada satu orang yang berganti ship tiap 1 bulan sekali.

Listrik hanya ada ketika malam saat genset dinyalakan, itupun dari jam 18 sampai jam 24. “menghemat BBM”, jawab penjaga mercusuar.

Air tawar yang tersedia adalah air tadah hujan yang ditampung kedalam toren-toren. Ketika listrik menyala maka air tanah disedot dimasukan kedalam bak kamar mandi. Air tadah hujan digunakan untuk kebutuhan masak memasak dan mencuci perlengkapan masak. Sedangkan air tanah hanya untuk mandi saja. Air tanah agak berbau sedikit.

Air tawar yang menjadi madu bagi nelayan untuk mampir di Pulau Biawak. Bagi penjaga mercusuar yang sendiri menjaga kedatangan nelayan menjadi pengisi kesunyian. Terkadang nelayan memberikan hasil tangkap atau sedikit BBM dan sebuah pertemanan. Sebuah muatualisme.

Satu hal yang luput oleh saya dan rekan-rekan, yang berencana bermalam lama di Pulau Biawak adalah membawa Tukang Masak. Dari Indramayu kami sudah membawa perbekalan dan segala rupa persiapan untuk mengisi perut selama di Pulau Biawak, tapi kami tidak membawa orang yang jago masak. So, selama 4 hari di Pulau Biawak saya makan ala nelayan. Yang penting perut terisi.

Sore kami dihabiskan dengan orientasi medan, mengelilingi Pulau Biawak dengan perahu. Sore banyak perahu nelayan yang bersandar, beberapa asik memperbaiki jaring, beberapa asik memberi makan biawak.

PBiawak_GE_TivalGodoras

Hari 2 – Tiga Pulau

Biawak_L8_TivalGodoras

Jika kamu lihat gambar diatas adalah perekaman citra satelit Landsat-8 untuk daerah Pulau Biawak dan kawan-kawan. Pulau Biawak yang ada hijau-hijaunya. Tepat diatas pulau biawan adalah Pulau Gosong dan yang paling utara dinamakan dengan Pulau Cendikian.

Warna hijau bisa diartikan dengan sebuah pulau yang bertanah (ada tanahnya), sedangkan warna biru untuk interpretasi terumbu karang, sedangkan warna hitam adalah perairan yang dalam. Maka, Pulau Gosong dan Pulau Cendikian adalah sebuah Terumbu Karang yang kokoh dan dekat dengan permukaan perairan. Kadang disebut juga dengan istilah Reef Flat atau Terumbu Paparan, tentu saya bisa saja salah mengambil istilah ini. Maaf.

Saya lupa, bahwasanya selama 4 hari di Pulau Biawak adalah dalam rangka bekerja. Hari kedua saya habiskan di Pulau Cendikian (yang paling utara). Dari perahu bisa turun jangkar, masuk dengan cara fin swimming sampai kedalam goba Pulau Cendikian. Goba bisa diartikan bulet-bulet hitam di dalam lingkaran biru itu. Kalo yang biru-biru di interpretasikan dengan terumbukarang, maka dasar goba adalah pasir putih hasil dari pecahan karang yang sudah jadi butiran.

IMG_9899

Cerita nelayan yang mengantar bahwa di Pulau Cendikian jika beruntung kita bertemu dengan kuncen pulau yang cukup sakti. Hari kami kesana tidak berjumpa.

Tertahan 2 jam di dalam perahu karena hujan yang sangat lebat.

Hari 3 – 2 Makam Keramat

Hari ke-3 saya baru tahu jika ada dua makam yang dikeramatkan. Satu makam seorang syeik dan satu makam belanda ZM Williem (kuncen pertama mercusuar). Kedua makam jika dari dermaga bersebrangan arah. Cerita-cerita tentang Pulau Biawak ini banyak saya dapatkan dari penjaga mercusuar. Saya tidak sempat ke kedua makam itu.

Pekerjaan menuntut saya menuju Pulau Gosong. Kalo kamu jeli, di pulau ini ada inlet atau pintu masuk di selatan pulau. Pintu masuk ke dalam goba cukup lebar dan dalam.

Kondisi terumbu karang di pulau-pulau ini menurut saya cukup baik tapi tidak terlalu mewah bagi yang pernah diving di Indonesia Timur.

A post shared by Tival Godoras (@tivalgodoras) on

A post shared by Tival Godoras (@tivalgodoras) on

Hari 4 – Makroalga tertutup Mikroalga

Hari ke-4 banyak dihabiskan eksplore Pulau Biawak. Pengamatan saya, banyak sekali mikroalga yang tergenang dan juga menutupi substrat pantai pulau ini. Mungkin produktifitas di daerah sini tinggi sehingga banyak nutrien. Namun, sepengamatan saya, nutrien-nutrien yang menjadi mikroalga menutupi substrat dasar. Cilakanya bagi makroalga yang tertutup mikroalga menjadi mati sebab terganggu fotosintesis.

Faedah selama di Pulau Biawak

hal yang sangat saya nikmati adalah jauhnya dari jaringan telpon apalagi internet. Kamu akan jauh dari media sosial bahkan jauh dari sinyal hape. Dihari pertama saya sempat nonton film dari tablet, segera saya bertaubat dan berbaur dengan nelayan untuk ngobrol-ngobrol.

Banyak biawak berkeliaran, yang akan menggangu aktifitasmu jika kamu agak penakut. Pengalaman saya, melewatkan sunrise dengan berenang karena sudah didahului oleh biawak menguasai pantai. Bawa tukang masak dan perlengkapan masak yang mumpuni jika kamu gak betah makan mie seharian.

Banyak nelayan yang tidak merokok, entah, saya tidak bisa mengeneralkan. Bahkan tidak ngopi item, mereka sukanya kopi saset. sekali lagi, entah, mungkin pas saya kesana ketemunya dengan para nelayan penikmat kopi ekstrak saset.

Demikian 4 hari yang saya lakukan di Pulau Biawak.

Negosiasi

negosiasi/ne·go·si·a·si/ /négosiasi/ n 1 proses tawar-menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak (kelompok atau organisasi) yang lain; 2 penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak yang bersengketa;

Mungkin karena selama hampir 7 tahun terakhir ini (njirr dah tujuh taon aja) saya hanya sebagai passenger. Dipikir-pikir posisi saya macam Anggota Muda saja, punya hak suara tapi tidak punya hak pilih (menentukan). Ketika saya tidak punya hak pilih maka kesempatan saya untuk negosiasi otomatis minus.

Kalo ingat kembali, sebelum 7 tahun terahir ini pun saya tidak banyak punya kesempatan untuk negosiasi. Ngalir gitu aja.

Maka Maret 2017 adalah dalam hidup saya mempunyai kesempatan bertemu dengan tiga kepala daerah dan jajarannya (tentu) dalam waktu yang terpisah. Bernegosiasi.

Hasil akhir yang menjadi target saya memang terpenuhi, dengan proses yang dilalui penuh drama. Malah jadi bukan drama jika saya ingat bahwa saya masih bisa mengontrol ekspresi emosi.

“muka mu ndak woles, su”, nasihat kawan.

Cokou Ikan

Saya punya satu hari untuk “liburan”. Selepas menemani Bapak melihat rumah beliau ketika kecil, kami makan siang. Mengisi perut sebelum terjun ke sungai di belakang rumah.

Hari itu saya di kampung, bersama Bapak dan keluara Ibu. Kebetulan Bapak saya menikahi adik kawan STM nya, yang saya panggil dengan “Mak Utiah”.

Konon, keluarga Ibu adalah jagoan sungai di kampung. Sedangkan Bapak adalah penguasa rimba. Mak Utiah jago berenang dan menangkap ikan dan Bapak adalah pemburu dengan senapannya.

Cokou adalah menangkap. Cokou ikan berati menangkap ikan. Benar-benar menangkap ikan dengan tangan kosong. Tangan secara manual masuk di sela-sela batu kali, kemudian tangkap ikan yang terpojok, tekan kepala ikan maka ikan mati segera.

menangkap ikan disela-sela batu sungai #exploresawahlunto #exploreminang #rancakbana

A post shared by Tival Godoras (@tivalgodoras) on

Tugas saya adalah mengumpulkan hasil tangkapan ikan, sesekali mengingatkan Bapak dan Mak Utiah bahwa mereka sudah tidak muda lagi.

Selain cerita romantisme masa lalu Bapak dan Mak Utiah, atau hasil tangkap yang mulai menurun, juga cerita kearifan lokal tentang menjaga stok ikan tetap terjaga. Melalui perangkat adat di kampung, ternyata konsep open/close season diterapkan. Saya tidak terlalu mengejar bagaimana teknis pelaksanaan hingga konsep open/close season ini bisa berjalan. Saya cukup kagum dengan local genius ini.

Menurut Mak Utiah, sungai adalah sumber protein yang memungkinkan jika sebuah keluarga sedang dalam masa panceklik, maka tinggal menangkap ikan di sungai untuk lauk anak-isteri mereka.

1

Aku Suka Ketjap

Perkenalan dengan ketjap dalam hidup saya ketika kelas 4 SD. Saya baru saja pindah sekolah dan masih berusaha untuk diterima dalam lingkaran perkawanan. Maklum anak baru, masih susah diterima lingkungan.

Namanya Adam. Anak kedua dari pasangan keturunan arab yang punya toko material wabil khusus genteng dari Purwakarta. Adam anaknya bisa dibilang asik, mungkin karena sering bergaul dengan para pekerja di tokonya. Saya suka kikuk menyaksikan jika Adam ngobrol dan ber-gue-elu dengan logat sunda kepada para pekerja toko materialnya. Lah, kami, saya dan adam, bocah tengik yang masih SD sedangkan pekerja toko material itu semua emang-emang.

Para pekerja di toko Adam adalah mamang-mamang (om-om) gondrong, jarang pakai baju dan doyan merokok. Buat saya yang masih bocah ketika itu, bisa ber-gue-elu dengan mamang-mamang gondrong adalah sebuah pencapaian hidup kualitas granit! Cadas.

Bapaknya Adam sedang sakit, jarang saya bertemu dengan beliau. Lebih sering saya bertemu dengan Ummi.

Ummi yang mengenalkan saya dengan Ketjap. Saya lupa merek ketjapnya, yang pasti itu adalah ketjap dari Purwakarta, tanah kelahiran Ummi. Adam yang asik bergaul sesungguhnya menambah selera saya terhadap ketjap, sebab, tiada henti-henti Adam mempromosikan ketjap nya itu, bahwa ini ketjap paling enak dan tidak akan bisa ditemukan di Depok. Benar saja, sampai saat ini saya paling mentok Kecap Bango.

Namun, bukan sejak SD saya menjadi pelahap ketjap yang membabi-buta. Keluarga saya tidak begitu familiar dengan ketjap. Walaupun Ummi pernah memberikan beberapa botol ketjap kepada saya, ya dirumah jarang saya pakai juga.

Waktu kita percepat sampai ketika saya kuliah di Semarang.

Semarang yang panas, dan tubuh saya yang mudah berkeringat sehingga saya membatasi makan pedas/sambal. Saya khawatir membasahi baju saya oleh keringat, makin apek saja badan ini jadinya. Ketjap adalah penolong saya, selain minuman dingin. Sejak saat itu rutin saya makan dengan ketjap. Merk apa saja yang tersedia. Sampai saat ini makan pakai ketjap macam otomatis saja. Kadang makan rendang saya pakai ketjap. Hahaha.. jadi kebiasaan saya yang kurang suka nasi panas-panas dari rice cooker, saya taburi dengan kecap. Dengan logika berpikir, nasi lebih mudah dingin hehe..

Pengalaman lain dari keluarga ini adalah, ketika saya kemalaman bermain di Toko Materialnya di jalan Margonda, kemudian saya dianter pulang ke rumah menggunakan TRUK. Sopirnya saya ingat sekali, namanya Imron. Saya dan Adam ogah duduk di depan naum di Bak Truk. Dulu, Depok masih sepi kawan.

Terimakasih.