Sorong, mulai adaptasi

UTC+9:00

Saya dan tim mulai masuk Kota Sorong pukul 6 pagi setelah melalui perjalanan udara dari Jakarta hampir 4 jam. Sebelumnya saya dari Jogjakarta, sedikit rada hectic karena saya harus memajukan jadwal perjalanan dan barang bawaan yang cukup besar-besar.

Sampai penginapan kami, saya dan tim, langsung tepar.

diselamatkan Gereja dan Romo

Jam makan siang tiba, perut sudah sangat lapar. Sadar bahwa saya saat ini “minoritas” maka kami makan di kedai makan yang terjangkau oleh langkah kaki. Sebuah kedai makan yang cukup ramai, sepertinya rumah makan khas manado. Saya memesan “Ikan Kuah” entah nama proses memasaknya apa. Tersaji dimeja makan : Ikan Kuah, Sayur Jantung Pisang dan Sup Kacang Merah (hangat!). <- saya suka! enak dan segar. Laper.

Menjelang sore, kawan saya harus mencari percetakan karena butuh media luar ruangan. Bermodalkan Google Maps, kami cari percetakan terdekat penginapan. Percetakan hanya 700 meter dari penginapan, suasana sore yang syahdu meringankan langkah untuk jalan-jalan sore. Bahkan saya berencana nanti akan lanjut ke Tembok Berlin, salah satu spot wisata yang hasil berselancar di dunia maya.

Tuhan punya caranya sendiri, tiba-tiba didepan saya ada dua pemuda dengan mata merah dan mulut bau alkohol. Berteriak dan seperti marah-marah. Ketika tangan salah satu pemuda mulai tunjuk-tunjuk tas kecil saya paham sedang dipalak. hahaha… Berusaha persuasif, saya menawarkan persahabatan. Rokok yang saya tawarkan, daripada duitkan? Sebungkus rokok kemudian diambil, kami kemudian lajut menuju percetakan.

Selesai urusan percetakan saya lanjut ke penginapan, melalui jalan yang sama. Eng.. Ing.. Eng.. saya bertemu (lagi!) dengan pemuda mabuk sebelumnya, dia marah-marah sebab katanya saya gak punya uang, rokok sudah dirampas tapi sekarang punya rokok lagi sebungkus. duh! hehehe… Mencoba negosiasi, kami bisa melanjutkan jalan.

5 langkah saya menjauh dari pemuda mabuk tadi ternyata saya bertemu dengan kawan dari Jogja yang akan berangkat ke Gereja. Saya ceritakan pengalaman kami, kemudian kawan dari Jogja yang akan berangkat ke Gereja minta ditemani, melewati jalan menuju percetakan tadi. Semangat sebagai satu tim, kami balik kanan, menuju gereja dan 5 langkah kedepan akan bertemu pemuda mabuk tadi.

Benar! Saya dihadang untuk ketiga kalinya.

Saat ini kawan dari Jogja yang akan berangkat ke Gereja yang jadi sasaran. Kemudian, kawan tersebut bilang jika dia akan ke Gereja manariknya pemuda mabuk melunak dan menunjukan arah gereja dengan sopan. Kami melenggang dengan aman ke Gereja. Baiklah.

Besok harinya kami check out dari penginapan sebab “katanya” kapal menuju Teluk Bintuni berangkat Senin siang. Semalam kami sudah packing rapih.

Setelah urusan check out, kami dapat kabar jika kapal kami jadwalnya diundur hahaha.. Kami kemudian check in lagi. Kawan dari Jogja yang akan berangkat ke Gereja didatengi oleh kawannya, yang belakangan saya tahu beliau adalah Romo.

Romo mengajak kami untuk check kapal yang tersedia. Perjalanan kami dimulai dengan menuju Pelabuhan Rakyat, Sorong. Ternyata itu pelabuhan menuju Raja Ampat juga. Jadwal ke Teluk Bintuni itu Rabu dan Sabtu. Modyar! itu artinya kami harus stay 2 hari lagi. Lanjut kami menuju Pelabuhan Usaha Mina. Romo sudah 11 tahun di Sorong, saya banyak dapat cerita pengalaman dari beliau. Setelah urusan perkapalan selesai, saya ditraktir makan siang oleh Romo. Rumah makan yang sedia sayur ada tempe/tahu, manteb bener! Fyi, semalam saya makan Pecel Lele + Tahu/Tempe itu Rp. 45.000

Perjalanan bersama Romo juga menemani kami mencari beberapa printilan yang kudu disiapkan.

IMG_20180806_132847

IMG_20180806_131314

gue percaya bahwa kejahatan ada dimana-mana, bahkan di Vietnam gue pernah di jambret. KRL Jakarta henpon gue di copet. Masuk Sorong gue harus mulai adaptasi.

gue percaya orang baik ada dimana-mana gak peduli agamanya, suku atau ras.

Advertisements

Jogja, langkah pertama

Stasiun Besar Jogja

Jogja, akhirnya saya bisa tiba di kota ini. Bukan sekadar untuk singgah namun tinggal. Walaupun saya hanya tiga hari tapi demi kepentingan “bertahan hidup” saya kudu wara-wiri. Terimakasih Gojek saya bias kesana-kemari dengan mudah.

Kereta saya tiba pukul 5 pagi, beberapa menit sebelum azan Subuh. Kawan baru saya adalah sepupu dari kawan kantor (lama) akan menjemput pukul 7 pagi. Selama tiga hari di Jogja saya tiga kali mampir ke kedai kopi. Pertama dengan kawan kuliah yang hampir dua tahun tidak bersua dan kedua saya minum di kedai kopi bersama kawan baru saya adalah sepupu dari kawan kantor (lama). Sempat pula saya mampir ke Hartono Mall karena tidak sengaja.

Ada pula kemungkinan Jogja dalam waktu setahun kedepan menjadi tujuan kota yang sering saya singgahi.

Penyu

Kenapa Penyu?

Penyu bagi saya unik, setidaknya di Indonesia. Ada 7 jenis penyu di dunia dan 6 jenis diantaranya berhabitat di Indonesia. Penyu adalah hewan jenis reptil yang termasuk poikilotherm (suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungan) dan golongan ectotermic vertebretes (berdarah dingin).

Ciri-ciri khas penyu yaitu bernapas dengan paru-paru, berkulit sisik dan mempunyai tempurung atau bahasa kerennya karapas yang sangat keras. Penyu tidak menjaga telurnya hingga menetas (no parental care).

Telur penyu yang menetas menjadi tukik, kemudian menuju lautan bebas hingga keberadaannya sulit terditeksi atau fase ini dikenal dengan The Missing Year.

Penyu berkembang biak dengan bertelur dan termasuk hewan yang mempunyai pertumbuhan yang sangat lamban sehingga memerlukan puluhan tahun untuk mencapai usia reproduksi.

Setelah fase The Missing Year, kira-kira pada usia sekitar (20-50 tahun) penyu jantan dan betina bermigrasi ke daerah peneluran disekitar daerah kelahiran mereka. Jarak migrasi untuk kawin ini penyu bisa menempuh hingga 3.000 Km. Penyu yang bertelur di sekitar daerah peneluran adalah tukik-tukik yang menetas 20-50 tahun yang lalu.

Perkawinan penyu terjadi di lepas pantai, di perairan dangkal. Si Penyu Jantan ataupun Si Penyu Betina memiliki beberapa pasangan kawin.

Generalized-life-cycle-of-sea-turtles-Source-Lanyon-J-M-C-J-Limpus-H-Marsh

 

No Parental Care

Ada fase dalam siklus penyu yang dikenal dengan istilah no parental care.

Tau ayam kalo bertelur?

Telur-telur ayam itu akan dierami oleh sang induk, dijaga temperaturnya sampai telur-telur menetas menjadi ayam kecil.

nah, kalo penyu tidak. Induk penyu akan bertelur dan mencari sarang bertelur yang cocok. Mencari pasir pantai, kemudian mengali pasir tersebut dan mengeluarkan telur-telurnya. Selesai bertelur, telur telur itu ditutup kembali oleh pasir.

Penyu meninggalkan sarang bertelurnya sebelum membuat jejek sarang pengecoh. Lokasi sarang pengecoh tak jauh dari sarang. Saat itulah dimulai fase no parental care. Berbeda dengan telur ayam yang suhu eram telurnya dijaga banget sama sang induk.

Telur penyu sangat sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan sarang. Suhu sarang telur penyu itu mempengaruhi jenis kelamin tukik yang akan menetas.

Jika suhu terlalu panas di salah satu sarang, kemungkinan besar yang akan menetas adalah tukik-tukik betina semua dalam satu sarang tersebut.

Berkebalikannya, jika terlalu dingin yang akan menetas semuanya tukik berkelamin jantan.

Pengaturan suhu yang stabil dalam sarang telur penyu berguna dalam menjaga regenerasi penyu itu, setidaknya di Indonesia.

Kebayang  ga jika populasi penyu generasi baru didominasi oleh satu jenis kelamin saja?